Senin, 27 April 2015

Perhatian Orientalis Terhadap Hadis



A.Sejarah Orientalisme
Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai sejarah perkembangan hadits di kalangan orientalis, maka hasrus dikaitkan dengan sejarah orientalisme secara umum. karena dengan begitu akan dapat diketahui bagaimana asal mula kajian hadits di kalangan orientalis dimulai dan bagaimana kajian hadits mewarnai perkembangan orientalisme.
Tanpa ada persinggungan ataupun benturan antar manusia, akan sulit dibayangkan, adakah dinamika kehidupan di dunia ini. Terkait dengan orientalisme, dengan definisi luasnya yang berarti faham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungannya, maka dalam pengertian ini dapat difahami bahwa telah terjadi persinggungan antara bangsa-bangsa timur dan bangsabangsa barat. Dan kajian sejarah menunjukan persinggungan ataupun benturan tersebut telah terjadi sejak beberapa abad Sebelum Masehi.
1.Sebelum Perang Salib
Persinggungan ataupun benturan terjadi dalam rangka memperebutkan wilayah kekuasaan dan menyebabkan perepcahan yang berkepanjangan. Data menyebutkan perebutan wilayah itu terjadi antara kerajaan Grik Kono dan Dinasti Acheamenids (600350 SM) dari Imperium Parsia. Perseteruan ini terjadi sejak pemerintahan Cyrus The Great (550-530 SM). Akibat dari persinggungan ini adalah adanya usaha dari masing-masing pihak untuk mengenali pihak lain. Benturan yang berlangsung berabad-abad lamanya itu hanya menghasilkan sebuah karya dari kelompok Grik Kono, bejudul Anabis karangan Xenophon (431-378 SM) yang mengisahkan tentang pahit getir 10.000 orang pasukan Grik yang terkepung di daerah Parsia dan perjuangannya menyelamatkan diri hingga sampai di pesisir laut hitam dan berhasil kembali ke Grik Lewat Laut.
Kenyataan lain yang menunjukan adanya ketertarikan Barat sangat berminat untuk mengenali dunia timur adalah ketika Alexander The Great (356-323 SM) yang berhasil merebut Asia kecil dari pasukan Parsia dan menaklukan Lybia, Mesir hingga ke Asia Tengah yang berbatasan dengan Thiang Shan d Tiongkok dan memasuki anak benua India dan menempatkan Gubernur Grik di kota Taxila (kini, dekat Peshawar). Karena lewat persinggungan inilah terjadi kontak langsung antara dunia Barat dengan daerah pedalaman Asia dan behasil menemukan beragam bentuk kekuasaan, kebudayaan, keyakinan agama, dan adat istiadat.
Sepeninggalnya Alexander tahun 323 SM, kekuasaan Grik di anak benua India ditumbangkan oleh dinasti Maurya (321-184 SM) sedang kekuasaan Grik di wilayah asia tengah dan Iran ditumbangkan oleh dinasti Arsacids (247 SM-226 M). meskipun demikian, Grik masih masih punya kekuasaan di Asia kecil, Syria dan Palestina di bawah dinasti Seleucids (305-64 SM), di Mesir dan Lybia di bawah kekuasaan dinasti Ptolemi (303-30 SM). Selain itu, kota-kota di semenanjung Grik juga menjadi polis-polis merdeka sebagaimana sebelum ditaklukan oleh raja Philip (356-336 SM) dari Makedonia.1
Beberapa abad berlalu dan kekuasaan berpindah tangan kepada dinasti-dinasti Islam. Perang antara Romawi dan Persia tidak pernah berhenti sejak abad III M hingga abad VII M (206-651 M). Hingga akhirnya wilayah imperium Parsia dapat direbut dan dikuasai oleh umat Islam pada masa pemerintahan Umar ibn al-Khatab. (634-644 M), demikian pula dengan wilayah imperium Romawi Timur (Syria, Palestina, Mesir dan Lybia) yang berhasil ditaklukan oleh Bani Umayyah (661-750 M). sejak saat itu kekuasaan Islam membentang dari Pegunungan Thian Shan di Timur hingga pegunungan Pyrenees di belahan Barat. Sedangkan pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah dan Turki Utsmani, wilayah kekuasaan Islam sampai ke Perancis Selatan dan wilayah Eropa Timur.
Situasi seperti ini, membangunkan semangat dunia Barat untuk bersatu melancarkan serangan sebanyak delapan gelombang yang berlangsung hampir dua abad yang masyhur disebut “Perang Salib.” Penghimpunan kekuatan ini dipandu oleh para Paus Vatikan.2
2.Masa Perang Salib
Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad lamanya, memiliki dampak besar terhadap dunia Barat dalam bidang budaya dan intelektual. Terutama dalam upaya mengkaji kebudayaan timur. Semenjak Islam berjaya di Eropa, seperti di Italia, Iberia dan Spanyol banyak orang mangunjungi daerah kekuasaan Islam ini. Sebelumnya, orang Eropa yang mengunjungi wilayah kekuasan Islam hanya bersifat perseorangan. Akan tetapi selama Perang Salib mereka datang dalam jumlah besar. Yang mereka pelajari adalah berbagai bentuk kebudayan berupa bentuk bangunan khas budaya timur, tempat tinggal para Amir dan Sultan, serta berbagai peninggalan imperium Romawi.
1 A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta : Amzah, 2006), hal. 36-37. Lihat juga M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hal. 1. 2 A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta : Amzah, 2006), hal. 37.
Sejak Perang Salib, terjadilah perubahan besar di dunia barat dan seterusnya hingga makin berkembangnya perdagangan yang mengakibatkan kontak yang lebih intens antara masyarakat di Barat dan yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Selain menyaksikan perkembangan dan kemajuan dunia islam, mereka juga menyaksikan kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat. Pemandangan tersebut menggugah dan membangkitkan keinginan keras para kaum cendekiawan Perang Salib untuk mengenali dan mempelajari peri keadaan dunia Timur dan mengkonsentrasikannya kepada Islam.3
Namun, Dalam tahap ini, para orientalis satu sama lain tidak memiliki keselarasan langkah dan banyak mendapat dukungan dari gereja. Yang terjadi adalah kegiatan saling mengkritik antara dua kubu intelektual Perang Salib dan berusaha untuk menunjukan superioritas Yahudi dan Nasrani.
Dengan demikian kajian Islam oleh Orientalis pada masa ini memiliki kecenderungan untuk mencari-cari kekurangan dalam ajaran Islam untuk memelihara kepercayaan kaum Kristen. Hasilnya, kebanyakan karya para orientalis memuat tuduhan kepada ajaran Islam dan Rasulullah dengan tanpa memberikan dalil dan bukti historis. Pada masa ini pula, oleh Barat, Islam dicitrakan sebagai Islam yg didistorsi karena semakin kuatnya perkembangan internal dunia Kristen. Puncaknya adalah pada saat penaklukan kembali Spanyol dan perang Salib.
Setelah itu, mulai marak aksi penerjemahan karya-karya Islam ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Latin. Berawal dari kunjungan para pendeta ke andalusia dalam rangka mempelajari Islam, menerjemahkan al-Qur’an dan buku-buku berbahasa Arab. Selain itu, mereka juga berguru kepada ulama-ulama Islam mengenai berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti filsafat, kedokteran, dan metafisika. Di antara mereka yang berkunjung ke Andalusia adalah Gerbert/Paus Sylverter II (999-1003), Pendeta Petrus (1092-1156) dan Gerrardi Krimon (1114-1187).4
3A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta : Amzah, 2006), hal. 46. Lihat juga M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hal. 36.
4 Hasan Abdul Rauf M. El-Badawy, Orientalisme dan Misionarisme, terj Andi Subarkah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hal 4.
Di Barat, selain Islam dicitrakan sebagai Islam yg didistorsi karena semakin kuatnya perkembangan internal dunia Kristen, Perkembangan minat terhadap filsafat (abad 12) juga berperan penting dalam membentuk citra mengenai Islam. Terkait dengan ini, dunia Islam dicitrakan sebagai “tempat lahirnya para filsuf besar dan mendunia.” Citra ini pula yang menjadikan Barat semakin berminat mengenali dunia Timur, khususnya Islam.
Abad 13 Eropa latin sibuk dengan konflik internal sehingga minat terhadap Islam menurun. Konflik yang terjadi adalah seputar perebutan kekuasan antara para raja penguasa eropa, perseturuan untuk memimpin pasukan penyerang ke Yesuralem dan lain-lain. Keadaan ini berlangsung hingga Akhir abad 14 saat Turki Usmani mengalahkan Balkan (Kristen). Kekalahan ini menyadarkan kembali Gererja. Hingga menumbuhkan kembali minat pengkajian terhadap Islam.
3.Masa renaisance
Dimulai sejak era gerakan renaisance di Eropa sampai masa pencerahan, yaitu masa yang bisa dikatakan sebagai pintu kebangkitan modernisasi dunia. Pada masa ini para orientalis berusaha membangun budaya gereja sekular, yang tidak lagi mencampuri urusan negara. Kajian ilmu pengetahuan, sebisa mungkin dipisahkan dari dominasi kekuasaan Gereja. Terkait dengan ini, maka orientalisme dapat dipahami sebagai pemikiran abad pencerahan.
Pada abad Pencerahan atau abad 18 M. adalah masa di mana rasionalitas sedang menjadi sebuah trend. Pembahasan apapun, akan dicari segi-segi rasionalitasnya. Pada masa pencerahan ini pula, ilmu pengetahuan sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Karena kecenderungan rasionalisme inilah kemudian Islam pada masa ini dicitrakan sebagai Islam yang rasional. Pada abad inilah terlahir orientalisme dalam pengertiannya yg khusus, sebagai sebuah disiplin ilmu (sekitar 1779 dalam bahasa Inggris, 1799 dalam bahasa Perancis). Pada masa ini pula kajian orientalisme mulai marak.
Seiring dengan meluasnya penjajahan bangsa Eropa terhadap negara-negara timur, orientalisme dijadikan alat untuk melayani kepentingan kaum penjajah. Contoh kolonialisasi Eropa (1839) adalah Perancis memasuki aljazair, Inggris memasuki Aden, Kolonialisasi Inggris terhadap India dan Malaysia serta Belanda terhadap Indonesia. Inti dari kolonialisasi adalah untuk membawa misi Eurosentrisme dan Imperialisme yg didukung oleh ideologi universalime abad pencerahan. Untuk menempatkan Timur di bawah dominasi Barat. Sedangkan Islam dicitrakan sebagai agama yang menyebabkan kemunduran Timur. Sebaliknya, Kristen menyebabkan kemajuan Barat.
C.Kajian Hadits Kalangan Orientalis   
Sepanjang perjalanan orientalisme mewarnai khazanah keilmuan dunia, kajian Islam yang dilakukan oleh orang Barat pada mulanya hanya ditujukan kepada materi keislaman secara umum, seperti sastra dan sejarah.5 Terutama pada awal kemunculannya di abad 8 M pusat perhatian mereka hanya tertuju pada al-Qur’an. Baru pada masa belakangan, mereka mengarahkan kajiannya secara khusus kepada bidang hadits nabi. Yaitu pada abad ke 19 M.
Baru pada abad inilah muncul kajian hadits oleh sarjana barat dalam bingkai yang lebih spesifik. Pada era ini, para sarjana barat mempertanyakan tentang otentisitas, originalitas, authorship, asal muasal, keakuratan serta kebenaran hadits. Yang mana hal-hal tersebut juga menjadi isu pokok dalam studi Islam, khususnya yang menyangkut hukum Islam. Ada beberapa faktor yang mendorong hadits menjadi kajian orientalis dalam menjelekkan Islam, yaitu;
1.         Mudahnya usaha memburukkan citra Islam melalui penyelidikan hadits daripada penelitian terhadap Al-Qur’an. Beberapa studi yang dibuat secara serius, objektif dan jauh dari polemik telah menunjukkan adanya keinginan kuat para orientalis untuk menyudutkan Islam.
2.         Banyaknya kontradiksi atau pertentangan dalam materi corpus hadits sendiri.
5 Ali Musthafa Ya’kub, Kritik Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdau, 2008), hal 8.
Ketika sarjana Barat memasuki domain penelitian tentang sumber dan asal usul Islam, mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang apakah dan sejauhmana hadis-hadis atau riwayat-riwayat tentang nabi dan generasi Islam pertama dapat dipercaya secara hisroris. tidak sedikit yang meragukan keotentikan sumber hukum kedua dalam Agama Islam, namun tidak sedikit pula yang menerima Hadis sabagai sumber hukum kedua setelah al-Quran. Herbert Berg, seorang tokoh orientalis dalam karyanya The Development of Exegesis in Early Islam: The Debate over The Authenticity of Muslim Literature from the Formative Period membagi orientalis yang focus dengan kajian hadis kedalam beberapa kategori sebagai berikut.
            a.      Skepticism
Pada Tahun 1848, setelah memperhatikan Sahih Bukhari dan mempertimbangkan hanya 4000 hadis yang otentik dari 600.000 hadis yang ada, Gustav Weil kemudian mengusulkan agar orang-orang Eropa mengkritik tanpa ragu, setidaknya setengah dari 4000 hadis. Langkah tersebut di ikuti oleh Aloys Sprenger yang menyatakan bahwa banyak hadis yang sebenarnya tidak otentik.
Meski Weil dan Sprenger sudah menyatakan keraguan atas hadis-hadis Nabi. Akan tetapi, penggerak kelompok ini adalah Goldziher dan diteruskan oleh J. Schacht. Goldziher di dalam karyanya Muslim Studies, Vol II, secara tegas mengungkapkan keraguannya atau perbedaan pandangan yang cukup signifikan mengenai asal-usul dan perkembangan literatur hadis.[1]

“The Word Hadith means ‘tale’, ‘communication’. Not only are communications among those who have embraced the religious life called ‘hadith’, but also historical information, whether secular or religious, and whether of times long past or of more recent events”[2].  

Pada dasarnya, ungkapan Ignaz tersebut menolak hadis sebagai sumber ajaran agama, hadis hanya bersifat informasi historis, baik informasi masa lalu maupun kejadian-kejadian pada sekarang.
Penerus estafet Skeptisisme Goldziher adalah Joseph Schacht. Dalam karyanya The origins of Muhammadan Jurisprudence, Schacht menyajikan suatu fondasi atau setidaknya titik tolak bagi keseluruhan studi hadis di Barat.[3] Fondasi tersebut adalah Projecting back, e-Silatio dan Common Link.[4]  Meski Schacht menawarkan suatu argumen yang lebih baik dibanding Goldziher, tetapi dia tetap tidak bisa beranjak jauh dari pengaruh Goldziher.

“The idea we have gained of the formative periode is thoroughly different from the fiction which asserted itself from the early third century A.H onward. After work of Goldziher there remained no doubt that the conventional picture concealed rather than revealed the truth; and I trust that the sketch by which I have tried to replace it comes nearer reality”[5]

Namun harus di akui, metode yang dipakai oleh Schacht dalam menetapkan asal-usul hadis, secara spesifik unik. Keunikan tersebut terletak pada usulan alternatifnya untuk menolak metode sarjana Muslim yang dianggapnya tidak relevan.[6]
   
        b.      Non-Skepticism
Teori dan Metodologi yang ditawarkan oleh Goldziher dan Schacht  memicu banyak komentar, pujian, kritik dari berbagai kalangan dan sekaligus menempatkan arah perdebatan. Para pengkritik atau tidak sependapat dengan kedua tokoh diatas, Mereka berargumen untuk mengkoreksi misunderstanding penulisan hadis Nabi dan penggunaan isnad dalam hadis.[7]
Seperti Nabia Abbot. Menurutnya, penulisan hadis sejak pertama kali sudah berlangsung terus-menerus dalam tradisi Islam. Pertama kali dalam arti bahwa para sahabat sejak dahulu sudah merekam hadis dalam bentuk tulisan. Sedangkan maksud dari “terus-menerus” adalah sebagian besar hadis sudah diriwayatkan dalam bentuk tulisan hingga pada masa terjadinya pengkoleksian hadis kanonik.[8]

“the tentative conclusion is that we have here a literary fragment that dates, most probably, from the third century of Islam. This tentative conclusion is based, first, on the quality and script of the papyrus, and, second, on the pecualirities of the text itself. The papyrus is fine in quality, unlike most of the generally coarse product met wiht in papyrus documents of the fourth century of the Hijrah.”[9]  

Senada dengan Abbot, Fuat Sezgin mengatakan bahwa tradisi tulis menulis sudah berlangsung semenjak Islam masa klasik. Sebagai penopang pendapatnya, Sezgin melihat shigat tahammul wa al-ada’ (metode transmisi sanad) yang biasa digunakan dalam periwayatan hadis berhubungan dengan materi secara tertulis.[10]

          c.       Middle Ground
Perdebatan antara kelompok Skeptism dan non-Skeptism diatas melahirkan kelompok yang mecoba menemukan posisi tengah-tengah, antara percaya dan tidak percaya akan kesejarahan dan otentisitas literatur hadis.[11]
Juynboll, salah satu tokoh dalam kelompok ini, mencoba untuk menjawab pertanyaan dimana, kapan dan siapa yang bertanggungjawab atas beredarnya sebuah hadis. Pemasukan Juynboll kedalam kelompok ini, berdasarkan atas keyakinan laporan terdahulu, Juynboll tidak sepenuhnya percaya namun juga tidak seluruhnya salah ketika dilihat secara menyeluruh, menyatu dalam deskripsi yang secara historis akurat dan dapat dipercaya.[12] Menurut Juynboll, Hadis yang ada dalam kitab kanonik, seperti Bukhari dan Muslim, belum dapat dipastikan akan keotentikannya,[13] dalam artian bahwa ada sebagian hadis yang ada dalam dua kitab kanonik diatas, keotentikannya diragukan.
Fazlur Rahman adalah tokoh yang ada dalam kelompok Middle Ground. Menurutnya, posisi Rahman sangat unik. Di satu sisi, dia menerima kesimpulan Goldziher bahwa sebagian besar hadis ahistoris. Namun sebagai muslim, dia ragu untuk menolak hadis yang terdapat dalam kitab kanonik dan menganggap sunnah Nabi adalah palsu.[14]
Selain tokoh diatas, Gregor Schoeler adalah tokoh Middle Ground. Dia menawarkan konsep alternatif mengenai mode transmisi pengetahuan dalam berbagai cabang keilmuan Islam. Dengan mencampur metode oral dan lisan, Schoeler berusaha mempertahankan keotentikan hadis sebagaimana yang ada sekarang, dan mempertimbangkan perbedaan dari hasil observasi.[15]
Selain ketiga tokoh diatas, Berg memasukkan nama-nama lain kedalam kelompok ini, semisal Harald Motzki, Horovitz, J. Robson, N.J Coulson dan U. Rubin.  

           d.      New-Skepticism
Paham yang dilahirkan oleh Goldziher dan Schacht terus berkembangkan oleh Michael Cook dan Norman Calder. Michael Cook mencoba mengembangkan pandangan Schacht tentang penyebaran isnad yang terjadi akibat pembuatan otoritas tambahan matan yang sama. Menurut Cook, hal tersebut terjadi dengan cara melompati perawi yang sejaman atau menyandarkan suatu perkataan kepada guru yang berbeda.[16]
Sedangkan Calder berpendapat bahwa pendikotomian tradisional antara periwayatan oral dan tertulis tidak dapat ditarik secara tajam.[17] Dalam artian, bahwa teks-teks tertulis, sebagaimana keberadaannya sekarang, tidak hanya menggambarkan sedikit corpus tertulis pada saat itu, tetapi merupakan bagian kecil menyangkut aktivitas lisan. Dengan demikian, sesuatu yang tertulis adalah bentuk dari sesuatu yang dibicarakan. Hadis yang lahir pada masa common link menunjukkan isi hadis tersebut menjadi pembicaraan pada masa tersebut, bukan common link yang bertanggungjawab, akan tetapi lebih kepada skenario kelahiran hadis yang disengaja oleh orang pada masa tersebut[18]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar