A.Sejarah Orientalisme
Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai sejarah perkembangan
hadits di kalangan orientalis, maka hasrus dikaitkan dengan sejarah
orientalisme secara umum. karena dengan begitu akan dapat diketahui bagaimana
asal mula kajian hadits di kalangan orientalis dimulai dan bagaimana kajian
hadits mewarnai perkembangan orientalisme.
Tanpa ada persinggungan ataupun benturan antar manusia, akan sulit
dibayangkan, adakah dinamika kehidupan di dunia ini. Terkait dengan
orientalisme, dengan definisi luasnya yang berarti faham atau aliran yang
berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur
beserta lingkungannya, maka dalam pengertian ini dapat difahami bahwa telah
terjadi persinggungan antara bangsa-bangsa timur dan bangsabangsa barat. Dan
kajian sejarah menunjukan persinggungan ataupun benturan tersebut telah terjadi
sejak beberapa abad Sebelum Masehi.
1.Sebelum Perang Salib
Persinggungan ataupun benturan terjadi dalam rangka memperebutkan
wilayah kekuasaan dan menyebabkan perepcahan yang berkepanjangan. Data
menyebutkan perebutan wilayah itu terjadi antara kerajaan Grik Kono dan Dinasti
Acheamenids (600350 SM) dari Imperium Parsia. Perseteruan ini terjadi sejak
pemerintahan Cyrus The Great (550-530 SM). Akibat dari persinggungan ini adalah
adanya usaha dari masing-masing pihak untuk mengenali pihak lain. Benturan yang
berlangsung berabad-abad lamanya itu hanya menghasilkan sebuah karya dari
kelompok Grik Kono, bejudul Anabis karangan Xenophon (431-378 SM) yang
mengisahkan tentang pahit getir 10.000 orang pasukan Grik yang terkepung di
daerah Parsia dan perjuangannya menyelamatkan diri hingga sampai di pesisir
laut hitam dan berhasil kembali ke Grik Lewat Laut.
Kenyataan lain yang menunjukan adanya ketertarikan Barat sangat
berminat untuk mengenali dunia timur adalah ketika Alexander The Great (356-323
SM) yang berhasil merebut Asia kecil dari pasukan Parsia dan menaklukan Lybia,
Mesir hingga ke Asia Tengah yang berbatasan dengan Thiang Shan d Tiongkok dan
memasuki anak benua India dan menempatkan Gubernur Grik di kota Taxila (kini,
dekat Peshawar). Karena lewat persinggungan inilah terjadi kontak langsung
antara dunia Barat dengan daerah pedalaman Asia dan behasil menemukan beragam
bentuk kekuasaan, kebudayaan, keyakinan agama, dan adat istiadat.
Sepeninggalnya Alexander tahun 323 SM, kekuasaan Grik di anak benua
India ditumbangkan oleh dinasti Maurya (321-184 SM) sedang kekuasaan Grik di
wilayah asia tengah dan Iran ditumbangkan oleh dinasti Arsacids (247 SM-226 M).
meskipun demikian, Grik masih masih punya kekuasaan di Asia kecil, Syria dan
Palestina di bawah dinasti Seleucids (305-64 SM), di Mesir dan Lybia di bawah
kekuasaan dinasti Ptolemi (303-30 SM). Selain itu, kota-kota di semenanjung
Grik juga menjadi polis-polis merdeka sebagaimana sebelum ditaklukan oleh raja
Philip (356-336 SM) dari Makedonia.1
Beberapa abad berlalu dan kekuasaan berpindah tangan kepada
dinasti-dinasti Islam. Perang antara Romawi dan Persia tidak pernah berhenti
sejak abad III M hingga abad VII M (206-651 M). Hingga akhirnya wilayah
imperium Parsia dapat direbut dan dikuasai oleh umat Islam pada masa
pemerintahan Umar ibn al-Khatab. (634-644 M), demikian pula dengan wilayah
imperium Romawi Timur (Syria, Palestina, Mesir dan Lybia) yang berhasil
ditaklukan oleh Bani Umayyah (661-750 M). sejak saat itu kekuasaan Islam
membentang dari Pegunungan Thian Shan di Timur hingga pegunungan Pyrenees di
belahan Barat. Sedangkan pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah dan Turki
Utsmani, wilayah kekuasaan Islam sampai ke Perancis Selatan dan wilayah Eropa
Timur.
Situasi seperti ini, membangunkan semangat dunia Barat untuk
bersatu melancarkan serangan sebanyak delapan gelombang yang berlangsung hampir
dua abad yang masyhur disebut “Perang Salib.” Penghimpunan kekuatan ini dipandu
oleh para Paus Vatikan.2
2.Masa Perang Salib
Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad lamanya,
memiliki dampak besar terhadap dunia Barat dalam bidang budaya dan intelektual.
Terutama dalam upaya mengkaji kebudayaan timur. Semenjak Islam berjaya di Eropa,
seperti di Italia, Iberia dan Spanyol banyak orang mangunjungi daerah kekuasaan
Islam ini. Sebelumnya, orang Eropa yang mengunjungi wilayah kekuasan Islam
hanya bersifat perseorangan. Akan tetapi selama Perang Salib mereka datang
dalam jumlah besar. Yang mereka pelajari adalah berbagai bentuk kebudayan
berupa bentuk bangunan khas budaya timur, tempat tinggal para Amir dan Sultan,
serta berbagai peninggalan imperium Romawi.
1 A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta :
Amzah, 2006), hal. 36-37. Lihat juga M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hal. 1. 2 A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir
Orientalisme, (Jakarta : Amzah, 2006), hal. 37.
Sejak Perang Salib, terjadilah perubahan besar di dunia barat dan
seterusnya hingga makin berkembangnya perdagangan yang mengakibatkan kontak
yang lebih intens antara masyarakat di Barat dan yang berada di wilayah
kekuasaan Islam. Selain menyaksikan perkembangan dan kemajuan dunia islam,
mereka juga menyaksikan kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat. Pemandangan
tersebut menggugah dan membangkitkan keinginan keras para kaum cendekiawan
Perang Salib untuk mengenali dan mempelajari peri keadaan dunia Timur dan
mengkonsentrasikannya kepada Islam.3
Namun, Dalam tahap ini, para orientalis satu sama lain tidak
memiliki keselarasan langkah dan banyak mendapat dukungan dari gereja. Yang
terjadi adalah kegiatan saling mengkritik antara dua kubu intelektual Perang
Salib dan berusaha untuk menunjukan superioritas Yahudi dan Nasrani.
Dengan demikian kajian Islam oleh Orientalis pada masa ini memiliki
kecenderungan untuk mencari-cari kekurangan dalam ajaran Islam untuk memelihara
kepercayaan kaum Kristen. Hasilnya, kebanyakan karya para orientalis memuat
tuduhan kepada ajaran Islam dan Rasulullah dengan tanpa memberikan dalil dan
bukti historis. Pada masa ini pula, oleh Barat, Islam dicitrakan sebagai Islam
yg didistorsi karena semakin kuatnya perkembangan internal dunia Kristen.
Puncaknya adalah pada saat penaklukan kembali Spanyol dan perang Salib.
Setelah itu, mulai marak aksi penerjemahan karya-karya Islam ke
dalam bahasa lain, seperti bahasa Latin. Berawal dari kunjungan para pendeta ke
andalusia dalam rangka mempelajari Islam, menerjemahkan al-Qur’an dan buku-buku
berbahasa Arab. Selain itu, mereka juga berguru kepada ulama-ulama Islam
mengenai berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti filsafat, kedokteran, dan
metafisika. Di antara mereka yang berkunjung ke Andalusia adalah Gerbert/Paus
Sylverter II (999-1003), Pendeta Petrus (1092-1156) dan Gerrardi Krimon
(1114-1187).4
3A. Mannan Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Jakarta :
Amzah, 2006), hal. 46. Lihat juga M. Joesoef Sou’yb, Orientalisme dan Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1985), hal. 36.
4 Hasan Abdul Rauf M. El-Badawy, Orientalisme dan Misionarisme,
terj Andi Subarkah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hal 4.
Di Barat, selain Islam dicitrakan sebagai Islam yg didistorsi
karena semakin kuatnya perkembangan internal dunia Kristen, Perkembangan minat
terhadap filsafat (abad 12) juga berperan penting dalam membentuk citra
mengenai Islam. Terkait dengan ini, dunia Islam dicitrakan sebagai “tempat
lahirnya para filsuf besar dan mendunia.” Citra ini pula yang menjadikan Barat
semakin berminat mengenali dunia Timur, khususnya Islam.
Abad 13 Eropa latin sibuk dengan konflik internal sehingga minat
terhadap Islam menurun. Konflik yang terjadi adalah seputar perebutan kekuasan
antara para raja penguasa eropa, perseturuan untuk memimpin pasukan penyerang
ke Yesuralem dan lain-lain. Keadaan ini berlangsung hingga Akhir abad 14 saat
Turki Usmani mengalahkan Balkan (Kristen). Kekalahan ini menyadarkan kembali
Gererja. Hingga menumbuhkan kembali minat pengkajian terhadap Islam.
3.Masa renaisance
Dimulai sejak era gerakan renaisance di Eropa sampai masa
pencerahan, yaitu masa yang bisa dikatakan sebagai pintu kebangkitan
modernisasi dunia. Pada masa ini para orientalis berusaha membangun budaya
gereja sekular, yang tidak lagi mencampuri urusan negara. Kajian ilmu
pengetahuan, sebisa mungkin dipisahkan dari dominasi kekuasaan Gereja. Terkait
dengan ini, maka orientalisme dapat dipahami sebagai pemikiran abad pencerahan.
Pada abad Pencerahan atau abad 18 M. adalah masa di mana
rasionalitas sedang menjadi sebuah trend. Pembahasan apapun, akan dicari
segi-segi rasionalitasnya. Pada masa pencerahan ini pula, ilmu pengetahuan
sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Karena kecenderungan rasionalisme
inilah kemudian Islam pada masa ini dicitrakan sebagai Islam yang rasional.
Pada abad inilah terlahir orientalisme dalam pengertiannya yg khusus, sebagai
sebuah disiplin ilmu (sekitar 1779 dalam bahasa Inggris, 1799 dalam bahasa
Perancis). Pada masa ini pula kajian orientalisme mulai marak.
Seiring dengan meluasnya penjajahan bangsa Eropa terhadap negara-negara
timur, orientalisme dijadikan alat untuk melayani kepentingan kaum penjajah.
Contoh kolonialisasi Eropa (1839) adalah Perancis memasuki aljazair, Inggris
memasuki Aden, Kolonialisasi Inggris terhadap India dan Malaysia serta Belanda
terhadap Indonesia. Inti dari kolonialisasi adalah untuk membawa misi
Eurosentrisme dan Imperialisme yg didukung oleh ideologi universalime abad
pencerahan. Untuk menempatkan Timur di bawah dominasi Barat. Sedangkan Islam
dicitrakan sebagai agama yang menyebabkan kemunduran Timur. Sebaliknya, Kristen
menyebabkan kemajuan Barat.
C.Kajian Hadits Kalangan Orientalis
Sepanjang perjalanan orientalisme mewarnai khazanah keilmuan dunia,
kajian Islam yang dilakukan oleh orang Barat pada mulanya hanya ditujukan
kepada materi keislaman secara umum, seperti sastra dan sejarah.5 Terutama pada
awal kemunculannya di abad 8 M pusat perhatian mereka hanya tertuju pada
al-Qur’an. Baru pada masa belakangan, mereka mengarahkan kajiannya secara
khusus kepada bidang hadits nabi. Yaitu pada abad ke 19 M.
Baru pada abad inilah muncul kajian hadits oleh sarjana barat dalam
bingkai yang lebih spesifik. Pada era ini, para sarjana barat mempertanyakan
tentang otentisitas, originalitas, authorship, asal muasal, keakuratan serta
kebenaran hadits. Yang mana hal-hal tersebut juga menjadi isu pokok dalam studi
Islam, khususnya yang menyangkut hukum Islam. Ada beberapa faktor yang
mendorong hadits menjadi kajian orientalis dalam menjelekkan Islam, yaitu;
1. Mudahnya usaha
memburukkan citra Islam melalui penyelidikan hadits daripada penelitian
terhadap Al-Qur’an. Beberapa studi yang dibuat secara serius, objektif dan jauh
dari polemik telah menunjukkan adanya keinginan kuat para orientalis untuk
menyudutkan Islam.
2. Banyaknya
kontradiksi atau pertentangan dalam materi corpus hadits sendiri.
5 Ali Musthafa Ya’kub, Kritik Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdau,
2008), hal 8.
Ketika sarjana Barat memasuki domain penelitian tentang sumber dan
asal usul Islam, mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang apakah dan
sejauhmana hadis-hadis atau riwayat-riwayat tentang nabi dan generasi Islam
pertama dapat dipercaya secara hisroris. tidak sedikit yang meragukan
keotentikan sumber hukum kedua dalam Agama Islam, namun tidak sedikit pula yang
menerima Hadis sabagai sumber hukum kedua setelah al-Quran. Herbert Berg,
seorang tokoh orientalis dalam karyanya The Development of Exegesis in Early
Islam: The Debate over The Authenticity of Muslim Literature from the Formative
Period membagi orientalis yang focus dengan kajian hadis kedalam beberapa
kategori sebagai berikut.
a. Skepticism
Pada Tahun 1848, setelah memperhatikan Sahih Bukhari dan
mempertimbangkan hanya 4000 hadis yang otentik dari 600.000 hadis yang ada,
Gustav Weil kemudian mengusulkan agar orang-orang Eropa mengkritik tanpa ragu,
setidaknya setengah dari 4000 hadis. Langkah tersebut di ikuti oleh Aloys
Sprenger yang menyatakan bahwa banyak hadis yang sebenarnya tidak otentik.
Meski Weil dan Sprenger sudah menyatakan keraguan atas hadis-hadis
Nabi. Akan tetapi, penggerak kelompok ini adalah Goldziher dan diteruskan oleh
J. Schacht. Goldziher di dalam karyanya Muslim Studies, Vol II, secara tegas
mengungkapkan keraguannya atau perbedaan pandangan yang cukup signifikan
mengenai asal-usul dan perkembangan literatur hadis.[1]
“The Word Hadith means ‘tale’, ‘communication’. Not only are
communications among those who have embraced the religious life called
‘hadith’, but also historical information, whether secular or religious, and
whether of times long past or of more recent events”[2].
Pada dasarnya, ungkapan Ignaz tersebut menolak hadis sebagai sumber
ajaran agama, hadis hanya bersifat informasi historis, baik informasi masa lalu
maupun kejadian-kejadian pada sekarang.
Penerus estafet Skeptisisme Goldziher adalah Joseph Schacht. Dalam
karyanya The origins of Muhammadan Jurisprudence, Schacht menyajikan suatu
fondasi atau setidaknya titik tolak bagi keseluruhan studi hadis di Barat.[3]
Fondasi tersebut adalah Projecting back, e-Silatio dan Common Link.[4] Meski Schacht menawarkan suatu argumen yang
lebih baik dibanding Goldziher, tetapi dia tetap tidak bisa beranjak jauh dari
pengaruh Goldziher.
“The idea we have gained of the formative periode is thoroughly
different from the fiction which asserted itself from the early third century
A.H onward. After work of Goldziher there remained no doubt that the
conventional picture concealed rather than revealed the truth; and I trust that
the sketch by which I have tried to replace it comes nearer reality”[5]
Namun harus di akui, metode yang dipakai oleh Schacht dalam
menetapkan asal-usul hadis, secara spesifik unik. Keunikan tersebut terletak
pada usulan alternatifnya untuk menolak metode sarjana Muslim yang dianggapnya
tidak relevan.[6]
b. Non-Skepticism
Teori dan Metodologi yang ditawarkan oleh Goldziher dan
Schacht memicu banyak komentar, pujian,
kritik dari berbagai kalangan dan sekaligus menempatkan arah perdebatan. Para
pengkritik atau tidak sependapat dengan kedua tokoh diatas, Mereka berargumen
untuk mengkoreksi misunderstanding penulisan hadis Nabi dan penggunaan isnad
dalam hadis.[7]
Seperti Nabia Abbot. Menurutnya, penulisan hadis sejak pertama kali
sudah berlangsung terus-menerus dalam tradisi Islam. Pertama kali dalam arti
bahwa para sahabat sejak dahulu sudah merekam hadis dalam bentuk tulisan.
Sedangkan maksud dari “terus-menerus” adalah sebagian besar hadis sudah
diriwayatkan dalam bentuk tulisan hingga pada masa terjadinya pengkoleksian
hadis kanonik.[8]
“the tentative conclusion is that we have here a literary fragment
that dates, most probably, from the third century of Islam. This tentative
conclusion is based, first, on the quality and script of the papyrus, and,
second, on the pecualirities of the text itself. The papyrus is fine in
quality, unlike most of the generally coarse product met wiht in papyrus
documents of the fourth century of the Hijrah.”[9]
Senada dengan Abbot, Fuat Sezgin mengatakan bahwa tradisi tulis
menulis sudah berlangsung semenjak Islam masa klasik. Sebagai penopang
pendapatnya, Sezgin melihat shigat tahammul wa al-ada’ (metode transmisi sanad)
yang biasa digunakan dalam periwayatan hadis berhubungan dengan materi secara
tertulis.[10]
c. Middle Ground
Perdebatan antara kelompok Skeptism dan non-Skeptism diatas
melahirkan kelompok yang mecoba menemukan posisi tengah-tengah, antara percaya
dan tidak percaya akan kesejarahan dan otentisitas literatur hadis.[11]
Juynboll, salah satu tokoh dalam kelompok ini, mencoba untuk
menjawab pertanyaan dimana, kapan dan siapa yang bertanggungjawab atas
beredarnya sebuah hadis. Pemasukan Juynboll kedalam kelompok ini, berdasarkan
atas keyakinan laporan terdahulu, Juynboll tidak sepenuhnya percaya namun juga
tidak seluruhnya salah ketika dilihat secara menyeluruh, menyatu dalam
deskripsi yang secara historis akurat dan dapat dipercaya.[12] Menurut
Juynboll, Hadis yang ada dalam kitab kanonik, seperti Bukhari dan Muslim, belum
dapat dipastikan akan keotentikannya,[13] dalam artian bahwa ada sebagian hadis
yang ada dalam dua kitab kanonik diatas, keotentikannya diragukan.
Fazlur Rahman adalah tokoh yang ada dalam kelompok Middle Ground.
Menurutnya, posisi Rahman sangat unik. Di satu sisi, dia menerima kesimpulan
Goldziher bahwa sebagian besar hadis ahistoris. Namun sebagai muslim, dia ragu
untuk menolak hadis yang terdapat dalam kitab kanonik dan menganggap sunnah Nabi
adalah palsu.[14]
Selain tokoh diatas, Gregor Schoeler adalah tokoh Middle Ground.
Dia menawarkan konsep alternatif mengenai mode transmisi pengetahuan dalam
berbagai cabang keilmuan Islam. Dengan mencampur metode oral dan lisan,
Schoeler berusaha mempertahankan keotentikan hadis sebagaimana yang ada
sekarang, dan mempertimbangkan perbedaan dari hasil observasi.[15]
Selain ketiga tokoh diatas, Berg memasukkan nama-nama lain kedalam
kelompok ini, semisal Harald Motzki, Horovitz, J. Robson, N.J Coulson dan U.
Rubin.
d. New-Skepticism
Paham yang dilahirkan oleh Goldziher dan Schacht terus
berkembangkan oleh Michael Cook dan Norman Calder. Michael Cook mencoba
mengembangkan pandangan Schacht tentang penyebaran isnad yang terjadi akibat
pembuatan otoritas tambahan matan yang sama. Menurut Cook, hal tersebut terjadi
dengan cara melompati perawi yang sejaman atau menyandarkan suatu perkataan
kepada guru yang berbeda.[16]
Sedangkan Calder berpendapat bahwa pendikotomian tradisional antara
periwayatan oral dan tertulis tidak dapat ditarik secara tajam.[17] Dalam
artian, bahwa teks-teks tertulis, sebagaimana keberadaannya sekarang, tidak
hanya menggambarkan sedikit corpus tertulis pada saat itu, tetapi merupakan
bagian kecil menyangkut aktivitas lisan. Dengan demikian, sesuatu yang tertulis
adalah bentuk dari sesuatu yang dibicarakan. Hadis yang lahir pada masa common
link menunjukkan isi hadis tersebut menjadi pembicaraan pada masa tersebut,
bukan common link yang bertanggungjawab, akan tetapi lebih kepada skenario
kelahiran hadis yang disengaja oleh orang pada masa tersebut[18]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar