Senin, 27 April 2015

Agama yang berada di Jepang



Pendahuluan
            Kemunculan agama-agama manusia merupakan suatu hal yang tidak terelakan. Di banyak tempat kita menemukan kenyataan bahwa agama amat beragam dan kompleks. Laju pertumbuhan yang bermacam pula tidak lepas dari konteks sosio-historis dari masyarakat tersebut. Pandangan seseorang terhadap agama ditentukan oleh pemahaman terhadap ajaran agama itu. Ketika pengaruh gereja di Eropa menindas para ilmuwan akibat penemuan mereka yang dianggap bertentangan denagn kitab suci, para ilmuwan pada akhirnya menjauh dari agama bahkan meninggalkannya.[1]
Dalam uraian ini, penulis mengangkat sebuah judul Agama Jepang; Telaah Historis Perkembanganb dan Ajaran Agama Shinto. Penulis menggunakan istilah Agama Jepang[2] yang mempunyai paling tidak dua alternatif pengertian:
1.      Agama yang berada di Jepang, sehingga muncul asumsi agama-agama baru yang ada di Jepang.
2.      Agama asli Jepang, yaitu agama Shinto.
Pengertian yang kedua inilah yang akan penulis bahas dalam makalah ini dengan berkosentrasi pada laju pertumbuhan dan perkembangan Agama Shinto sebagai agama asli di Jepang.[3]







A.    Potret Religiusitas Masyarakat Jepang
Keberagamaan masyarakat Jepang mengalami perubahan semenjak meletusnya Perang Dunia II antara Blok Barat dan Blok Timur. Di satu sisi, bangsa Jepang terlihat seakan-akan sangat sedikit sekali menaruh perhatian terhadap agama. Akan tetapi di lain sisi, tampak juga seakan-akan bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat agamis. Di sana banyak terdapat kelompok-kelompok keagamaan yang memiliki tempat-tempat suci dan tempat-tempat pertemuan yang tersebar di seantro negeri Jepang. Sifat agamis juga diperlihatkan oleh jumlah pengunjung tempat-tempat suci terkenal yang cukup banyak pada saat perayaan keagamaan. Namun, di saat yang sama, kehidupan bangsa Jepang modern, terutama corak kehidupan industrialisasi dan urbanisasinya, agaknya telah menyebabkan orang-orang Jepang lebih banyak terlibat pada hal-hal yang bukan dalam wilayah agama. Hampir-hampir tidak ada lagi waktu yang tersisa waktu untuk agama.[4]
Pada dasarnya Jepang adalah sebuah Negara yang agraris, dan dalam kehidupan masyarakat yang agraris inilah, baik agama Shinto, agama Buddha, dan agama Konfusius, mendapatkan landasan yang kuat bagi kehidupannya. Tetapi pada masa sekarang Jepang dapat dikatakan sebagai Negara yang super modern dalam segala bidang. Kehidupan yang agraris menjadi terdesak dan diganti oleh kehidupan industri dan urbanisasi.[5]
Banyak sekali perubahan yang dialami oleh masyarakat Jepang dalam konteks keagamaan ini. Masyarakat pada zaman sekarang lebih banyak terlibat pada masalah yang bersifat duniawi. Pola pikir mereka pun terkena imbas dari segala perubahan yang terjadi setelah Perang Dunia II. Di samping itu, kehidupan modern diikuti pula dengan timbulnya masalah-masalah sosial yang baru, yang sangat berbeda sekali sifatnya dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat agraris. Problem-problem ini bukan saja menjadi tantangan yang harus direspon oleh  masyarakat Jepang pada umumnya, akan tetapi juga oleh agama-agama di Jepang khususnya.[6]   
B.     Agama Shinto: Selayang Pandang
Shinto adalah agama asli bangsa Jepang. Sebagai agama asli, dalam perkembangannya, yang meliputi proses terbentuknya, bentuk-bentuk keagamaannya maupun ajaran-ajarannya, memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah yang sulit dialih-bahasakan ke dalam bahasa lain. Istilah Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti jalan para dewa, agama para dewa, pemujaan para dewa, atau pengajaran para dewa. Dan nama Shinto itupun baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama Konfusius[7] sudah memasuki Jepang pada abad keenam Masehi. Sungguhpun demikian, menurut tradisi, agama Shinto adalah agama asli Jepang yang usianya telah mencapai lebih dari 2.000 tahun.[8]   
Agama ini berkembang seperti Buddha. Agama ini berkembang diduga pada periode pertama sejarah Jepang yang pada awal mulanya merupakan kepercayaan pemuja roh. Kemudian ciri-ciri aslinya menghilang pada periode pertama sekalipun masih tertinggal dalam ingatan masyarakat awam. Hal ini terlihat dari puji-pujian di tulisan-tulisan yang biasanya tergantung di pintu-pintu rumah dan pada kain-kain yang tergantung di sumber-sumber air atau pohon yang disucikan atau benang-benang yang tergantung di pintu-pintu kuil. Inilah sisa kepercayaan pemujaan kepada roh yang semenjak lama sudah dianut oleh bangsa Jepang.[9]
Ajaran Shinto juga mewajibkan pada para pemeluknya untuk memuja benda-benda alam, khususnya tumbuh-tumbuhan yang mendatangkan penghasilan dan berkah tersendiri bagi masyarakat Jepang. Di antara tumbuh-tumbuhan yang dipuja adalah padi. Banyak kuil yang mereka dirikan di pedesaan untuk memuja padi yang mereka namakan “Dewa Kami”. bangsa Jepang juga menamakan sesuatu yang mereka anggap “luar biasa”, semisal matahari, langit, atau kepala pemerintahan dengan dewa. Penghormatan terhadap kepala pemerintahan atau nenek moyang merupakan salah satu ciri dari agama ini yang berlaku hingga saat ini.[10]   
C.    Sejarah Perkembangan Agama Shinto
Menurut babakan sejarahnya, perkembangan agama Shinto cukup rumit. Di samping tidak ada bekas peninggalan sejarah, baik berupa benda atau tulisan-tulisan yang otentik yang berwujud naskah-naskah atau buku, juga disebabkan ajaran nenek moyang yang mengajarkan agama dan adat istiadat kepada anak cucu melalui cerita secara turun temurun. Sekalipun demikian, dalam masalah-masalah yang ada hubungannya dengan ajaran agama dapat diketahui dari ahli yang mahir tentang pengetahuan tersebut, yang menurut istilah mereka disebut dengan katariba.[11]
Yamato salah satu suku di Jepang yang berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah tengah dan selatan Jepang. Sebelum dikuasai oleh suku Yamato serta sebelum datangnya agama Buddha dan Konfusius, keadaan agama di Jepang sekalipun tidak terorganisir, telah memiliki sikap religius yang tanpa nama. Mereka sangat mengagungkan pemujaan terhadap nenek moyang dan Shamanisme. Semua gejala alam mempunyai sifat animis dan setiap benda mempunyai roh (Kami/Spirit).[12]
Tiap-tiap suku memandang nenek moyangnya sebagai dewanya, sedangkan kepala sukunya mempunyai dwi fungsi, yakni sebagai pemimpin politik dan pendeta tertinggi. Dengan demikian, nampak sekali tidak ada pemisahan antara agama dan negara.
Dengan kemenangan suku Yamato pada abad III Masehi, semua mitos dan dewa dipandang lebih unggul daripada suku lainnya, dan dari sinilah lambat laun suku Yamato menjadi dasar utama adanya kepercayaan terhadap asal-usul kedewaan. Pada abad V Masehi, kultus dan tradisi keagamaan yang beragam itu sedikit demi sedikit diorganisasikan dalam bentuk pemerintahan agama dengan suatu sistem peribadatan yang dipusatkan pada dewa Matahari.[13]
Setelah suku Yamato menjadikan Jepang sebagai negara yang berdaulat dan bersatu, kehidupan beragama Jepang telah diwarnai oleh pengaruh yang datang dari luar, terutama agama Buddha yang masuk ke Jepang pada tahun 538 M atau 552 M. Agama Buddha ini dibawa oleh seorang paderi agama Buddha dari Korea yang mempropagandakan agamanya ke Jepang. Dengan kemahirannya dalam menyampaikan misi ajaran Buddha, penguasa Jepang pada waktu itu menerima dengan baik ajakan paderi tersebut sehingga kalangan pengusaha Jepang memeluk agama Buddha.
Ada beberapa faktor diterimanya agama Buddha di tengah masyarakat pada masa tersebut[14]:
1.      Jepang ingin membuka persekutuan dengan Korea.
2.      Para paderi Buddhisme sangat pintar menyelami jiwa rakyat dan penguasa Jepang.
3.      Para sarjana agama Buddha dari Korea dan China memasuki Jepang memiliki dan membawa tingkat peradaban yang lebih tinggi.
Baik pada masa Kaisar Shotoku (574-622 M) maupun pada masa Pangeran Nara (710-794 M), agama Buddha telah menguasai kehidupan spiritual di kalangan istana sehingga lambat laun menjadi fondasi yang kuat dalam kehidupan religius masyarakat Jepang. Apalagi pihak penguasa menganggap faham Buddha dapat dijadikan sarana yang paling tepat untuk mencapai kesejahteraan hidup bangsa. Para penguasa mewajibkan kepada setiap keluarga untuk mendirikan butsudan.[15]
Datangnya agama Buddha tidak berarti agama asli Jepang mengalami kemusnahan. Justru pertemuannya dengan faham Buddha telah menanamkan kesadaran adanya perbedaan mendasar antara agama asli dengan Buddha, sehingga menumbuhkan kesadaran untuk mempelajari sifat dan sejarah agama itu sendiri.
D.    Bentuk dan Corak Agama Shinto
Perkembangan agama Shinto Primitif sehingga menjadi agama Negara Shinto bentuk baru telah mengalami proses asimilasi dengan agama lain. Meskipun kepercayaan asli tetap bertahan dan hidup sampai saat ini, namun dalam proses pertemuan dengan agama lain, banyak unsure yang terserap dari agama-agama tersebut, seperti ajaran agama Tao, agama Konfusius, agama Buddha, dan lain sebagainya.
Pengaruh terbesar berasal dari agama Buddha. Dalam membicarakan peranan agama Buddha di tengah-tengah konteks masyarakat Jepang pada saat itu, maka ada beberapa hal yang patut dikemukakan yang menjadi cirri agama tersebut di Jepang:
1.      Buddhisme bermula dan berada dari lapisan atas (penguasa).
2.      Buddhisme sangat dekat dengan pemerintah.
3.      Buddhisme melibatkan diri dalam lingkungan keluarga Jepang.
4.      Peran Buddhisme diperlihatkan melalui Magi. 
Di samping Buddhisme, Konfusius juga memberikan bentuk terhadap perkembangan dan pertumbuhan agama Shinto. Agama konfusius tidak mengalami benturan-benturan yang berarti dengan nilai-nilai tradisional, tetapi justru memperkokohnya dengan memberikan ideologis dan etis.[16] Sebaliknya, bagi aganma Konfusius (sama halnya dengan Buddhisme) telah memberikan bentuk baru setelah terjadi proses asimilatif dengan agama asli, sehingga mengubah dirinya menjadi berbeda dengan agama Konfusius yang terdapat di China.[17]
Pada masa pemerintahan Meiji (setelah mengalami restorasi), agama Shinto mempunyai tiga kelompok besar, yaitu Jinja Shinto, Kyoha Shinto, dan Minkan Shinto. Jinja Shinto merupakan sistem kepercvayaan dan peribadatan yang diselenggarakan dalam tempat-tempat suci Shinto serta memperoleh bantuan resmi dari pemerintah. Kyoha Shinto merupakan gabungan 13 sekte yang dilakukan oleh pemerintah dengan maksud untruk mempermudah pengawasan. Adapun minkan Shinto merupakan sistem kepercayaan rakyat umum terhadap adanya dewa-dewa dan  tersusun. Sistem ajarannya merupakan perpaduan antara agama Shinto dengan agama Kofusius, Buddhisme, filsafat dan agama-agama lainnya yang telah membentuk kepercayaan umum di kalangan rakyat Jepang.[18]
E.     Kepercayaan dan Peribadatan Agama Shinto
Paham serba jiwa (animisme) merupakan dasar awal kepercayaan agama Shinto. Dengan amat sederhana, masyarakat Jepang telah mempersonifikasi semua gejala alam yang mereka temui sebagai sesuatu yang mempunyai daya kekuatan dan kekuasaan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka. Hal semacam ini mereka sebut dengan istilah Kami[19]. Kami menurut pandangan mereka adalah sama dengan dewa yang dapat menunjukkan tunggal dan banyak, serta merupakan objek pemujaan mereka.[20]
Pembahasan mengenai maksud istilah Kami dapat kita simpulkan adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto[21], yaitu:
1.      Dewa-dewa (kami) yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat, merasakan, dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
2.      Dewa-dewa (kami) tersebut dapat muncul dari diri manusia.
3.      Dewa-dewa (kami) dianggap mempunyai spirit (mitama) yang memancar dan berdiam pada tempat-tempat suci di bumi dan dapat mempengaruhi kehidupan manusia.
Berdasarkan hal tersebut, pada prinsipnya penganut agama Shinto dapat memuja kepada para dewa, roh, nenek moyang, patung, hewan, atau apapun yang dipandang suci.
Agama Shinto mengajarkan kepercayaan akan adanya garis kesinambungan antara Kami dengan manusia. Hubungan antara keduanya diungkapkan dalam istilah oya-ko yang menunjukkan suatu hubungan antara orang tua dengan anak, atau hubungan antara nenek moyang dengan keturunannya. Jadi menurut agama Shinto, Kami bukanlah merupakan suatu kekuasaan yang mutlak dan transenden atas manusia.
Cara pemeluk agama Shinto memuja Kami dapat dianalogikan dengan cara seseorang dalam menghormati dan menjamu tamu yang sangat dihormatinya. Syarat utama dalam memuja Kami adalah kesucian, dan bersih dari segala macam kotoran, termasuk penyakit, luka, menstruasi, dan sebagainya. Hal-hal semacam itu dianggap sebagai keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya kesengsaraan dan merusak upacara-upacara keagamaan. Hal-hal tersebut dapat dihilangkan dengan cara menjauhkan diri dari keikutsertaan dalam persoalan-persoalan agama dan dalam kehidupan sosial  untuk waktu tertentu dan mengerjakan upacara-upacara pensucian yang disebut harae[22].
Doa yang ditujukan kepada dewa disebut norito yang bentuk dan bunyinya beraneka ragam. Bangsa Jepang percaya bahwa doa yang disusun dalam kalimat yang baik akan dapat mendatangkan kebaikan, dan begitu juga sebaliknya. Doa yang disusun dalam kalimat yang jelek akan mendatangkan kesengsaraan dan musibah.[23]
Dalam agama Shinto, masih banyak upacara keagamaan yang bentuk dan tujuannya sangat beraneka ragam tergantung pada dewa, tempat suci dan tujuannya. Upacara keagamaan tersebut disebut matsuri dan pada umumnya terdiri dari ritus-ritus yang hidmat dan kemudian diikuti dengan perayaan-perayaan massal yang penuh dengan kegembiraan. Rangkaian ritus matsuri terdiri dari pemberian sesaji berupa makanan, pembacaan norito, musik dan ibadah serta diikuti dengan pesta bersama menikmati sake dan makanan yang semula disajikan kepada dewa. Sedang perayaan dalam matsuri dilakukan dalam bentuk arak-arakan, tari-tari, pertunjukan sandiwara, perlombaan, dan pesta-pesta besar.[24]
Agama Shinto tidak mempunyai bentuk peribadatan yang waktu penyelenggaraannya telah ditentukan seperti Islam yang mempunyai kewajiban shalat lima waktu sehari semalam atau Kristen dengan Kebaktian Minggunya. Setiap pemeluk Shinto akan mengunjungi tempat-tempat suci agamanya jika dia menghendaki. Sungguhpun demikian, seorang pemeluk agama Shinto yang taat akan tetap memberikan pemujaan terhadap tempat-tempat suci agamanya setiap hari.
F.     Pengaruh Shintoisme Terhadap Pribadi[25]
Meskipun bagaimanapun juga suatu kepercayaan dipandang tidak benar oleh agama wahyu, bila telah terbentuk dalam pribadi seperti halnya Shintoisme yang telah menjadi tradisi kebudayaan rakyat Jepang, maka hal tersebut sulit bagi agama-agama wahyu yang datang ke Jepang untuk mengubahnya kearah panggilan kebenaran kewahyuan. Apalagi bila diingat bahwa Jepang adalah suatu Bangsa yang sangat disipli terhadap janji atau sumpah, maka kesetiaan terhadap agama, Negara, kaisar dan terhadap tradisinya merupakan suatu kewajiban yang suci bagi mereka.
Dalam hubungan inilah seorang ahli sejarah Jepang, D.C. Holten menyatakan bahwa orang-orang Jepang dilahirkan dalam ajaran Shinto. Kesetiaannya terhadap kepercayaan dan pengamalan ajarannya adalah menjadi kualifikasi pertama sebagai “orang Jepang yang baik”. Meskipun ia memeluk agama yang universal seperti Buddha atau Kristen, faham lama (Shinto) tetap merupakan pengaruh vital dan luas, yang secara fundamental faham lama tersebut membentuk pula mentalitas tingkah laku serta memberikan pola dasar yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Untuk memperjelas ajaran Shintoisme ini, perlu dikemukakan juga tentang ajaran kesusilaan yang paling terhormat yang biasa dilakukan para bangsawan atau para kesatria-kesatria Jepang sebagai berikut:
1.      Keberanian dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh karena itu keberanian sudah dididikkan pada anak dalam masa-masa permulaan hidupnya. Sikap mereka terhadap keberanian dinyatakan dalam semboyan “Keberanian yang benar untuk hidup, ialah bilamana hal itu benar untuk hidup, dan untuk mati bila hal itu benar untuk mati”.
2.      Sifat penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “semua dosa besar dan kecil dapat diampuni dengan melalui tobat, kecuali dua hal, yaitu penakut dan mencuri.
3.      Loyalitas, yaitu setia. Kesetiaan pertama terhadap kaisar, kemudian meluas meluas kepada anggota keluarga Kaisar, lalu kepada masyarakat umum dan kemudian kepada generasi yang akan datang.
4.      Kesucian dan kebersihan, adalah sesuatu yang sangat penting dalam Shintoisme. Oleh karenanya dalam faham ini terdapat upacara-upacara pensucian. Orang tidak suci adalah berdosa, karena berarti melawan dewa-dewa.














Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu. Perbandingan Agama. Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
Asy-Syahrastani, Muhammad bin Abdul Karim. Al-Milal wa An-Nihal, alih bahasa oleh Asywadi Syukur.  Surabaya: Bina Ilmu, 2003.
Djam’annuri. Agama Jepang. Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981.
editor, Djam’annuri. Agama Kita, Perspektif sejarah Agama-Agama; Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2000.
Ghazali, Adeng Mukhtar. Ilmu Perbandingan Agama. Bandung: Pustaka Setia, 2000.
H.M. Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agam-Agama Besar. Jakarta: PT Golden Teravon Press, 1997.















[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2007), cet. XVIII, hlm. 375
[2] Adeng Mukhtar Ghazali, Ilmu Perbandinagn Agama (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 119.
                [3] Ada pandapat yang mengatakan bahwa Shinto merupakan suatu faham untuk menghindari perkataan “agama” yang mempunyai pengertian khusus karena suatu agama bukan hanya soal keyakinan ataupun kepercayaan saja, akan tetapi mengandung syari’at yang sempurna. Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religious yang bersifat nasional Jepang sebagai warisan nenek moyang mereka yang dijadikan pedoman hidupnya.
[4] Djam’annuri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm. 8.
[5] Ibid, hlm. 14.
[6] Ibid, hlm. 15
[7] Kongfusius berasal dari dua kata, Kong merupakan nama suku dan Fu berarti pemimpin atau filosof. Kongfusius berarti pemimpin atau filosof atau cendikiawan suku Kong. Lihat Asy-Syahrastani, Agama Kongfusius dalam Al-Milal wa An-NIhal (Surabaya: Bina Ilmu, 2006), jilid 3, hlm. 40.
[8] Djam’annuri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm. 7.
[9] Muhammad Bin Abdul Karim Asy-Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal, alih bahasa oleh Asywadi Syukur (Surabaya: Bina Ilmu, 2006), jilid 3, hlm. 48.
[10] Ibid, hlm. 49.
[11] Adeg Mukhtar Ghazalai, Ilmu Perbandingan Agama (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 122.
                [12] Djam’annuri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm. 20.
                [13] Ibid, hlm. 21.
                [14] Adeg Mukhtar Ghazalai, Ilmu Perbandingan Agama (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 122.
[15]  Butsudan adalah tempat pemujaan Buddha yang terdapat dalam rumah.
[16] ibid, hlm. 125.
[17] Ada 3 perbedaan antara agama Konfusius di Jepang dan agama Konfusius tang terdapat di China atau Korea; 1. Tokoh-tokoh agama Konfusius di Jepang mempelajari budaya dan agama sendiri dan berusaha memadukannya dengan agama Konfusius, 2. agama Konfusius di Jepang memerankan peranan penting pada lapisan atas (penguasa) dan lapisan bawah, sedangkan di China hanya berpusat pada lapisan atas, 3. agama Konfusius di Jepang  memperoleh bentuk aslinya dan dilaksanakan penuh konsekuen, karena tidak hanya digunakan sebagai pemersatu bangsa, tetapi juga memberikan kelengkapan intelektual dalam pembaharuan sosial-politik yang dilakukan pada masa Meiji.
[18] Adeg Mukhtar Ghazalai, Ilmu Perbandingan Agama (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 125.
[19] Ada dua pengertian yang dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda mengenai pengertian istilah Kami. Apabila yang dimaksudkan adalah adanya sifat-sifat kelebihan, keunggulan atau kekuasaan yang dimiliki Kami atas yang lain, maka istilah tersebut dapat diartikan “di atas”, atau “unggul”. Namun apabila yang dimaksudkan adalah sesuatu kekuatan spirirtual, maka Kami dapa dialihbahasakan menjadi “dewa”. Bangsa Jepang memahami pengertian yang kedua ini sebagaia sutu objek pemujaan yang berbeda dengan pengertian dengan pengertian objek-objek pemujaan yang terdapat dalam ajaran agama lain. Kata Kami dapat diartika juga sebagai bentuk tunggal dan jamak. Dewa-dewa dalam kepercayaan masyarakat Jepang sangat banyak dan tidak terbatas (Yao-yarozu no kami). Lihat Djaman’uri, Agama Jepang (Yogyakarta; Bagus Arafah, 1981), hlm. 56-58.   
[20] Adeg Mukhtar Ghazalai, Ilmu Perbandingan Agama (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 125.
[21] Ibid, hlm. 126.
[22] Harae merupakan upacara agama Shinto untuk menghilangkan segala macam kotoran, kesalahan, dan kesengsaraan dengan memanjatkan doa kepada kepada para dewa. Upacara ini adalah cara untuk mengembalikan seseorang kepada kondisi atau keadaan agar dia dapat mendekati para dewa dengan melakukan pensucian badan atau pikiran. Harae dilakukan mendahului setiap pelaksanaan upacara-upacara dalam agama Shinto. Lihat Djaman’uri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm. 64-65.
[23]  Djaman’uri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm. 65.
[24] Ibid, hlm. 65.
[25] H.M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar (Jakarta: PT Golden Teravon Press, 1997), hlm. 54-56.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar