Pendahuluan
Kemunculan
agama-agama manusia merupakan suatu hal yang tidak terelakan. Di banyak tempat
kita menemukan kenyataan bahwa agama amat beragam dan kompleks. Laju
pertumbuhan yang bermacam pula tidak lepas dari konteks sosio-historis dari
masyarakat tersebut. Pandangan seseorang terhadap agama ditentukan oleh
pemahaman terhadap ajaran agama itu. Ketika pengaruh gereja di Eropa menindas
para ilmuwan akibat penemuan mereka yang dianggap bertentangan denagn kitab
suci, para ilmuwan pada akhirnya menjauh dari agama bahkan meninggalkannya.[1]
Dalam uraian ini, penulis mengangkat
sebuah judul Agama Jepang; Telaah Historis Perkembanganb dan Ajaran Agama Shinto.
Penulis menggunakan istilah Agama Jepang[2]
yang mempunyai paling tidak dua alternatif pengertian:
1.
Agama yang berada di Jepang, sehingga muncul asumsi agama-agama
baru yang ada di Jepang.
2.
Agama asli Jepang, yaitu agama Shinto.
Pengertian yang kedua inilah yang
akan penulis bahas dalam makalah ini dengan berkosentrasi pada laju pertumbuhan
dan perkembangan Agama Shinto sebagai agama asli di Jepang.[3]
A.
Potret Religiusitas Masyarakat Jepang
Keberagamaan masyarakat Jepang
mengalami perubahan semenjak meletusnya Perang Dunia II antara Blok Barat dan
Blok Timur. Di satu sisi, bangsa Jepang terlihat seakan-akan sangat sedikit
sekali menaruh perhatian terhadap agama. Akan tetapi di lain sisi, tampak juga
seakan-akan bangsa Jepang adalah bangsa yang sangat agamis. Di sana banyak
terdapat kelompok-kelompok keagamaan yang memiliki tempat-tempat suci dan
tempat-tempat pertemuan yang tersebar di seantro negeri Jepang. Sifat agamis
juga diperlihatkan oleh jumlah pengunjung tempat-tempat suci terkenal yang
cukup banyak pada saat perayaan keagamaan. Namun, di saat yang sama, kehidupan
bangsa Jepang modern, terutama corak kehidupan industrialisasi dan
urbanisasinya, agaknya telah menyebabkan orang-orang Jepang lebih banyak
terlibat pada hal-hal yang bukan dalam wilayah agama. Hampir-hampir tidak ada
lagi waktu yang tersisa waktu untuk agama.[4]
Pada dasarnya Jepang adalah sebuah
Negara yang agraris, dan dalam kehidupan masyarakat yang agraris inilah, baik
agama Shinto, agama Buddha, dan agama Konfusius, mendapatkan landasan yang kuat
bagi kehidupannya. Tetapi pada masa sekarang Jepang dapat dikatakan sebagai
Negara yang super modern dalam segala bidang. Kehidupan yang agraris menjadi
terdesak dan diganti oleh kehidupan industri dan urbanisasi.[5]
Banyak sekali perubahan yang dialami
oleh masyarakat Jepang dalam konteks keagamaan ini. Masyarakat pada zaman
sekarang lebih banyak terlibat pada masalah yang bersifat duniawi. Pola pikir
mereka pun terkena imbas dari segala perubahan yang terjadi setelah Perang
Dunia II. Di samping itu, kehidupan modern diikuti pula dengan timbulnya masalah-masalah
sosial yang baru, yang sangat berbeda sekali sifatnya dengan masalah-masalah
yang dihadapi oleh masyarakat agraris. Problem-problem ini bukan saja menjadi
tantangan yang harus direspon oleh
masyarakat Jepang pada umumnya, akan tetapi juga oleh agama-agama di
Jepang khususnya.[6]
B.
Agama Shinto: Selayang Pandang
Shinto adalah agama asli bangsa
Jepang. Sebagai agama asli, dalam perkembangannya, yang meliputi proses
terbentuknya, bentuk-bentuk keagamaannya maupun ajaran-ajarannya,
memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah yang sulit
dialih-bahasakan ke dalam bahasa lain. Istilah Shinto sendiri sebenarnya
berasal dari bahasa China yang berarti jalan para dewa, agama para
dewa, pemujaan para dewa, atau pengajaran para dewa. Dan nama Shinto
itupun baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa
Jepang itu ketika agama Buddha dan agama Konfusius[7]
sudah memasuki Jepang pada abad keenam Masehi. Sungguhpun demikian, menurut
tradisi, agama Shinto adalah agama asli Jepang yang usianya telah mencapai
lebih dari 2.000 tahun.[8]
Agama ini berkembang seperti Buddha.
Agama ini berkembang diduga pada periode pertama sejarah Jepang yang pada awal
mulanya merupakan kepercayaan pemuja roh. Kemudian ciri-ciri aslinya menghilang
pada periode pertama sekalipun masih tertinggal dalam ingatan masyarakat awam.
Hal ini terlihat dari puji-pujian di tulisan-tulisan yang biasanya tergantung
di pintu-pintu rumah dan pada kain-kain yang tergantung di sumber-sumber air
atau pohon yang disucikan atau benang-benang yang tergantung di pintu-pintu kuil.
Inilah sisa kepercayaan pemujaan
kepada roh yang semenjak lama sudah dianut oleh bangsa Jepang.[9]
Ajaran Shinto juga mewajibkan pada para
pemeluknya untuk memuja benda-benda alam, khususnya tumbuh-tumbuhan yang
mendatangkan penghasilan dan berkah tersendiri bagi masyarakat Jepang. Di
antara tumbuh-tumbuhan yang dipuja adalah padi. Banyak kuil yang mereka dirikan
di pedesaan untuk memuja padi yang mereka namakan “Dewa Kami”. bangsa Jepang
juga menamakan sesuatu yang mereka anggap “luar biasa”, semisal matahari,
langit, atau kepala pemerintahan dengan dewa. Penghormatan terhadap kepala pemerintahan atau nenek moyang
merupakan salah satu ciri dari agama ini yang berlaku hingga saat ini.[10]
C.
Sejarah Perkembangan Agama Shinto
Menurut babakan sejarahnya, perkembangan agama
Shinto cukup rumit. Di samping tidak ada bekas peninggalan sejarah, baik berupa
benda atau tulisan-tulisan yang otentik yang berwujud naskah-naskah atau buku,
juga disebabkan ajaran nenek moyang yang mengajarkan agama dan adat istiadat
kepada anak cucu melalui cerita secara turun temurun. Sekalipun demikian, dalam
masalah-masalah yang ada hubungannya dengan ajaran agama dapat diketahui dari
ahli yang mahir tentang pengetahuan tersebut, yang menurut istilah mereka
disebut dengan katariba.[11]
Yamato salah satu suku di Jepang yang berhasil memperoleh
kekuasaan atas wilayah tengah dan selatan Jepang. Sebelum dikuasai oleh suku Yamato
serta sebelum datangnya agama Buddha dan Konfusius, keadaan agama di Jepang
sekalipun tidak terorganisir, telah memiliki sikap religius yang tanpa nama.
Mereka sangat mengagungkan pemujaan terhadap nenek moyang dan Shamanisme.
Semua gejala alam mempunyai sifat animis dan setiap benda mempunyai roh (Kami/Spirit).[12]
Tiap-tiap suku memandang nenek moyangnya
sebagai dewanya, sedangkan kepala sukunya mempunyai dwi fungsi, yakni sebagai
pemimpin politik dan pendeta tertinggi. Dengan demikian, nampak sekali tidak
ada pemisahan antara agama dan negara.
Dengan kemenangan suku Yamato pada abad
III Masehi, semua mitos dan dewa dipandang lebih unggul daripada suku lainnya,
dan dari sinilah lambat laun suku Yamato menjadi dasar utama adanya
kepercayaan terhadap asal-usul kedewaan. Pada abad V Masehi, kultus dan tradisi
keagamaan yang beragam itu sedikit demi sedikit diorganisasikan dalam bentuk
pemerintahan agama dengan suatu sistem peribadatan yang dipusatkan pada dewa
Matahari.[13]
Setelah suku Yamato menjadikan Jepang
sebagai negara yang berdaulat dan bersatu, kehidupan beragama Jepang telah
diwarnai oleh pengaruh yang datang dari luar, terutama agama Buddha yang masuk
ke Jepang pada tahun 538 M atau 552 M. Agama Buddha ini dibawa oleh seorang
paderi agama Buddha dari Korea yang mempropagandakan agamanya ke Jepang. Dengan
kemahirannya dalam menyampaikan misi ajaran Buddha, penguasa Jepang pada waktu
itu menerima dengan baik ajakan paderi tersebut sehingga kalangan pengusaha
Jepang memeluk agama Buddha.
1. Jepang ingin membuka persekutuan dengan Korea.
2. Para paderi Buddhisme sangat pintar menyelami
jiwa rakyat dan penguasa Jepang.
3. Para sarjana agama Buddha dari Korea dan China
memasuki Jepang memiliki dan membawa tingkat peradaban yang lebih tinggi.
Baik pada masa Kaisar Shotoku (574-622 M)
maupun pada masa Pangeran Nara (710-794 M), agama Buddha telah menguasai
kehidupan spiritual di kalangan istana sehingga lambat laun menjadi fondasi
yang kuat dalam kehidupan religius masyarakat Jepang. Apalagi pihak penguasa
menganggap faham Buddha dapat dijadikan sarana yang paling tepat untuk mencapai
kesejahteraan hidup bangsa. Para penguasa mewajibkan kepada setiap keluarga
untuk mendirikan butsudan.[15]
Datangnya agama Buddha tidak berarti agama
asli Jepang mengalami kemusnahan. Justru pertemuannya dengan faham Buddha telah
menanamkan kesadaran adanya perbedaan mendasar antara agama asli dengan Buddha,
sehingga menumbuhkan kesadaran untuk mempelajari sifat dan sejarah agama itu
sendiri.
D.
Bentuk dan Corak Agama Shinto
Perkembangan agama Shinto
Primitif sehingga menjadi agama Negara Shinto bentuk baru telah mengalami
proses asimilasi dengan agama lain. Meskipun kepercayaan asli tetap bertahan
dan hidup sampai saat ini, namun dalam proses pertemuan dengan agama lain,
banyak unsure yang terserap dari agama-agama tersebut, seperti ajaran agama
Tao, agama Konfusius, agama Buddha, dan lain sebagainya.
Pengaruh terbesar berasal dari agama
Buddha. Dalam membicarakan peranan agama Buddha di tengah-tengah konteks
masyarakat Jepang pada saat itu, maka ada beberapa hal yang patut dikemukakan
yang menjadi cirri agama tersebut di Jepang:
1.
Buddhisme bermula dan berada dari lapisan atas (penguasa).
2.
Buddhisme sangat dekat dengan pemerintah.
3.
Buddhisme melibatkan diri dalam lingkungan keluarga Jepang.
4.
Peran Buddhisme diperlihatkan melalui Magi.
Di samping Buddhisme, Konfusius juga
memberikan bentuk terhadap perkembangan dan pertumbuhan agama Shinto. Agama
konfusius tidak mengalami benturan-benturan yang berarti dengan nilai-nilai
tradisional, tetapi justru memperkokohnya dengan memberikan ideologis dan etis.[16] Sebaliknya, bagi aganma Konfusius (sama
halnya dengan Buddhisme) telah memberikan bentuk baru setelah terjadi proses
asimilatif dengan agama asli, sehingga mengubah dirinya menjadi berbeda dengan
agama Konfusius yang terdapat di China.[17]
Pada masa pemerintahan Meiji (setelah
mengalami restorasi), agama Shinto mempunyai tiga kelompok besar, yaitu Jinja
Shinto, Kyoha Shinto, dan Minkan Shinto. Jinja Shinto
merupakan sistem kepercvayaan dan peribadatan yang diselenggarakan dalam
tempat-tempat suci Shinto serta memperoleh bantuan resmi dari pemerintah. Kyoha
Shinto merupakan gabungan 13 sekte yang dilakukan oleh pemerintah dengan
maksud untruk mempermudah pengawasan. Adapun minkan Shinto merupakan
sistem kepercayaan rakyat umum terhadap adanya dewa-dewa dan tersusun. Sistem ajarannya merupakan
perpaduan antara agama Shinto dengan agama Kofusius, Buddhisme, filsafat dan
agama-agama lainnya yang telah membentuk kepercayaan umum di kalangan rakyat
Jepang.[18]
E.
Kepercayaan dan Peribadatan Agama Shinto
Paham serba jiwa (animisme) merupakan
dasar awal kepercayaan agama Shinto. Dengan amat sederhana, masyarakat Jepang
telah mempersonifikasi semua gejala alam yang mereka temui sebagai sesuatu yang
mempunyai daya kekuatan dan kekuasaan yang sangat berpengaruh terhadap
kehidupan mereka. Hal semacam ini mereka sebut dengan istilah Kami[19]. Kami menurut pandangan mereka adalah
sama dengan dewa yang dapat menunjukkan tunggal dan banyak, serta merupakan
objek pemujaan mereka.[20]
Pembahasan mengenai maksud istilah Kami
dapat kita simpulkan adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan
agama Shinto[21], yaitu:
1. Dewa-dewa (kami) yang pada umumnya
merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar,
melihat, merasakan, dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
2. Dewa-dewa (kami) tersebut dapat muncul
dari diri manusia.
3. Dewa-dewa (kami) dianggap mempunyai
spirit (mitama) yang memancar dan berdiam pada tempat-tempat suci di bumi dan
dapat mempengaruhi kehidupan manusia.
Berdasarkan hal tersebut, pada prinsipnya
penganut agama Shinto dapat memuja kepada para dewa, roh, nenek moyang, patung,
hewan, atau apapun yang dipandang suci.
Agama Shinto mengajarkan kepercayaan akan
adanya garis kesinambungan antara Kami dengan manusia. Hubungan antara
keduanya diungkapkan dalam istilah oya-ko yang menunjukkan suatu
hubungan antara orang tua dengan anak, atau hubungan antara nenek moyang dengan
keturunannya. Jadi menurut agama Shinto, Kami bukanlah merupakan suatu
kekuasaan yang mutlak dan transenden atas manusia.
Cara pemeluk agama Shinto memuja Kami
dapat dianalogikan dengan cara seseorang dalam menghormati dan menjamu tamu
yang sangat dihormatinya. Syarat utama dalam memuja Kami adalah
kesucian, dan bersih dari segala macam kotoran, termasuk penyakit, luka,
menstruasi, dan sebagainya. Hal-hal semacam itu dianggap sebagai
keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya kesengsaraan dan merusak
upacara-upacara keagamaan. Hal-hal tersebut dapat dihilangkan dengan cara
menjauhkan diri dari keikutsertaan dalam persoalan-persoalan agama dan dalam kehidupan
sosial untuk waktu tertentu dan
mengerjakan upacara-upacara pensucian yang disebut harae[22].
Doa yang ditujukan kepada dewa disebut norito
yang bentuk dan bunyinya beraneka ragam. Bangsa Jepang percaya bahwa doa
yang disusun dalam kalimat yang baik akan dapat mendatangkan kebaikan, dan
begitu juga sebaliknya. Doa yang disusun dalam kalimat yang jelek akan
mendatangkan kesengsaraan dan musibah.[23]
Dalam agama Shinto, masih banyak upacara
keagamaan yang bentuk dan tujuannya sangat beraneka ragam tergantung pada dewa,
tempat suci dan tujuannya. Upacara keagamaan tersebut disebut matsuri
dan pada umumnya terdiri dari ritus-ritus yang hidmat dan kemudian diikuti
dengan perayaan-perayaan massal yang penuh dengan kegembiraan. Rangkaian ritus
matsuri terdiri dari pemberian sesaji berupa makanan, pembacaan norito, musik
dan ibadah serta diikuti dengan pesta bersama menikmati sake dan makanan
yang semula disajikan kepada dewa. Sedang perayaan dalam matsuri dilakukan
dalam bentuk arak-arakan, tari-tari, pertunjukan sandiwara, perlombaan, dan
pesta-pesta besar.[24]
Agama Shinto tidak mempunyai bentuk
peribadatan yang waktu penyelenggaraannya telah ditentukan seperti Islam yang
mempunyai kewajiban shalat lima waktu sehari semalam atau Kristen dengan
Kebaktian Minggunya. Setiap pemeluk Shinto akan mengunjungi tempat-tempat suci
agamanya jika dia menghendaki. Sungguhpun demikian, seorang pemeluk agama Shinto
yang taat akan tetap memberikan pemujaan terhadap tempat-tempat suci agamanya
setiap hari.
Meskipun bagaimanapun juga suatu kepercayaan
dipandang tidak benar oleh agama wahyu, bila telah terbentuk dalam pribadi
seperti halnya Shintoisme yang telah menjadi tradisi kebudayaan rakyat Jepang,
maka hal tersebut sulit bagi agama-agama wahyu yang datang ke Jepang untuk
mengubahnya kearah panggilan kebenaran kewahyuan. Apalagi bila diingat bahwa
Jepang adalah suatu Bangsa yang sangat disipli terhadap janji atau sumpah, maka
kesetiaan terhadap agama, Negara, kaisar dan terhadap tradisinya merupakan
suatu kewajiban yang suci bagi mereka.
Dalam hubungan inilah seorang ahli
sejarah Jepang, D.C. Holten menyatakan bahwa orang-orang Jepang dilahirkan
dalam ajaran Shinto. Kesetiaannya terhadap kepercayaan dan pengamalan ajarannya
adalah menjadi kualifikasi pertama sebagai “orang Jepang yang baik”. Meskipun
ia memeluk agama yang universal seperti Buddha atau Kristen, faham lama (Shinto)
tetap merupakan pengaruh vital dan luas, yang secara fundamental faham lama
tersebut membentuk pula mentalitas tingkah laku serta memberikan pola dasar
yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Untuk memperjelas ajaran Shintoisme
ini, perlu dikemukakan juga tentang ajaran kesusilaan yang paling terhormat
yang biasa dilakukan para bangsawan atau para kesatria-kesatria Jepang sebagai
berikut:
1.
Keberanian dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh
karena itu keberanian sudah dididikkan pada anak dalam masa-masa permulaan
hidupnya. Sikap mereka terhadap keberanian dinyatakan dalam semboyan
“Keberanian yang benar untuk hidup, ialah bilamana hal itu benar untuk hidup,
dan untuk mati bila hal itu benar untuk mati”.
2.
Sifat penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “semua dosa
besar dan kecil dapat diampuni dengan melalui tobat, kecuali dua hal, yaitu
penakut dan mencuri.
3.
Loyalitas, yaitu setia. Kesetiaan pertama terhadap kaisar, kemudian
meluas meluas kepada anggota keluarga Kaisar, lalu kepada masyarakat umum dan
kemudian kepada generasi yang akan datang.
4.
Kesucian dan kebersihan, adalah sesuatu yang sangat penting dalam Shintoisme.
Oleh karenanya dalam faham ini terdapat upacara-upacara
pensucian. Orang tidak suci adalah berdosa, karena berarti melawan dewa-dewa.
Daftar
Pustaka
Ahmadi, Abu. Perbandingan Agama. Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
Asy-Syahrastani,
Muhammad bin Abdul Karim. Al-Milal wa An-Nihal, alih bahasa oleh Asywadi
Syukur. Surabaya: Bina Ilmu, 2003.
Djam’annuri. Agama
Jepang. Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981.
editor, Djam’annuri. Agama Kita, Perspektif sejarah Agama-Agama; Sebuah
Pengantar. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2000.
Ghazali, Adeng
Mukhtar. Ilmu Perbandingan Agama. Bandung: Pustaka Setia, 2000.
H.M. Arifin. Menguak
Misteri Ajaran Agam-Agama Besar. Jakarta: PT Golden Teravon Press, 1997.
[1] M.
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2007), cet. XVIII,
hlm. 375
[3] Ada pandapat yang mengatakan bahwa Shinto merupakan suatu faham untuk
menghindari perkataan “agama” yang mempunyai pengertian khusus karena suatu
agama bukan hanya soal keyakinan ataupun kepercayaan saja, akan tetapi
mengandung syari’at yang sempurna. Shintoisme adalah faham yang berbau
keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme
merupakan filsafat religious yang bersifat nasional Jepang sebagai warisan
nenek moyang mereka yang dijadikan pedoman hidupnya.
[5] Ibid, hlm. 14.
[7]
Kongfusius berasal dari dua kata, Kong merupakan nama suku dan Fu berarti
pemimpin atau filosof. Kongfusius berarti pemimpin atau filosof atau
cendikiawan suku Kong. Lihat Asy-Syahrastani, Agama Kongfusius dalam Al-Milal
wa An-NIhal (Surabaya: Bina Ilmu, 2006), jilid 3, hlm. 40.
[8]
Djam’annuri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm. 7.
[9]
Muhammad Bin Abdul Karim Asy-Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal, alih
bahasa oleh Asywadi Syukur (Surabaya: Bina Ilmu, 2006), jilid 3, hlm. 48.
[10] Ibid, hlm. 49.
[17] Ada 3 perbedaan antara
agama Konfusius di Jepang dan agama Konfusius tang terdapat di China atau
Korea; 1. Tokoh-tokoh agama Konfusius di Jepang mempelajari budaya dan agama
sendiri dan berusaha memadukannya dengan agama Konfusius, 2. agama Konfusius di
Jepang memerankan peranan penting pada lapisan atas (penguasa) dan lapisan
bawah, sedangkan di China hanya berpusat pada lapisan atas, 3. agama Konfusius
di Jepang memperoleh bentuk aslinya dan
dilaksanakan penuh konsekuen, karena tidak hanya digunakan sebagai pemersatu
bangsa, tetapi juga memberikan kelengkapan intelektual dalam pembaharuan sosial-politik
yang dilakukan pada masa Meiji.
[19] Ada dua pengertian yang dapat dilihat dari dua
perspektif yang berbeda mengenai pengertian istilah Kami. Apabila yang
dimaksudkan adalah adanya sifat-sifat kelebihan, keunggulan atau kekuasaan yang
dimiliki Kami atas yang lain, maka
istilah tersebut dapat diartikan “di atas”, atau “unggul”. Namun apabila yang
dimaksudkan adalah sesuatu kekuatan spirirtual, maka Kami dapa dialihbahasakan menjadi “dewa”. Bangsa Jepang memahami
pengertian yang kedua ini sebagaia sutu objek pemujaan yang berbeda dengan
pengertian dengan pengertian objek-objek pemujaan yang terdapat dalam ajaran
agama lain. Kata Kami dapat diartika juga sebagai bentuk tunggal dan
jamak. Dewa-dewa dalam kepercayaan masyarakat Jepang sangat banyak dan tidak
terbatas (Yao-yarozu no kami). Lihat Djaman’uri, Agama Jepang
(Yogyakarta; Bagus Arafah, 1981), hlm. 56-58.
[22] Harae merupakan upacara
agama Shinto untuk menghilangkan segala macam kotoran, kesalahan, dan
kesengsaraan dengan memanjatkan doa kepada kepada para dewa. Upacara ini adalah
cara untuk mengembalikan seseorang kepada kondisi atau keadaan agar dia dapat
mendekati para dewa dengan melakukan pensucian badan atau pikiran. Harae
dilakukan mendahului setiap pelaksanaan upacara-upacara dalam agama Shinto.
Lihat Djaman’uri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm.
64-65.
[23]
Djaman’uri, Agama Jepang (Yogyakarta: Bagus Arafah, 1981), hlm.
65.
[25] H.M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran
Agama-Agama Besar (Jakarta: PT Golden Teravon
Press, 1997), hlm. 54-56.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar