BAB I
PENDAHALUAN
A.
Latar belakang
Al-Qur’an adalah sumber pedoman
bagi umat manusia untuk menuntun kepada jalan kebenaran. Banyak pelajaran yang
terdapat di dalam al-Qur’an, salah satumya adalah kisah tentang umat yang
terdahulu. Di dalam firman-Nya, Allah tidak hanya selalu menyebut umat Islam sebagai
figur utama dalam al-Qur’an ataupun Islam sendiri. Terdapat beberapa ayat yang
di dalamnya Allah menyebutkan beberapa golongan umat yang ada di dunia ini.
Yang akan menjadi kajian fokus
dalam pembahasan kali ini adalah golongan Ahli Kitab. Allah banyak menyebut
mereka sesuai dengan karakteristik dari masing-masing Ahli Kitab. Ada yang
Allah sebutkan sebagai golongan yang sangat membenci dan bermusuhan dengan kaum
mukmin, ada juga yang Allah sebutkan sebagai golongan yang paling dekat
persahabatannya dengan kaum mukmin. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah, Q. S. Al-Maidah
ayat 82 :
82.
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap
orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan
Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang
yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang
Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu
(orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena
Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.
Maka di sini kami akan mencoba
memaparkan bagaimana al-Qur’an bercerita tentang Ahli Kitab dan karakteristik
masing-masing, kaitan satu golongan dengan golongan lainnya.
B. Rumusan masalah
Adapun
rumusan masalah dari penjelasan di atas adalah :
1.
Bagaimana
Asbabun Nuzul (aspek historis) ayat yang berbicara tentang Ahli kitab ?
2.
Bagaimana
kisah para Ahli Kitab yang diceritakan dalam al-Qur’an ?
3.
Bagaimana
sikap dan sifat dari masing-maasing Ahli Kitab yang dijelaskan dalam al-Qur’an
?
C. Tujuan penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Mengetahui
Asbabun Nuzul ayat yang berbicara tentang Ahli Kitab
2.
Mengetahui
Kisah para Ahli Kitab yang diceritakan dalam al-Qur’an
3.
Mengetahui
sikap dan sifat dari masing-masing Ahli Kitab yang dijelaskan dalam al-Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Asbabun Nuzul
Ayat
1.
Q.S. Ali Imran
ayat 110
110. kamu adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
2.
Q.S. Ali Imran
ayat 113 dan 114
113.
mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang Berlaku lurus
[221], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang
mereka juga bersujud (sembahyang).
[221] Yakni: golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.
114. mereka beriman
kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai
kebajikan; mereka itu Termasuk orang-orang yang saleh.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Abdullah bin
Salam, Tsa’labah bin Sa’yah, Usaid bin Sa’yah, As’ad bin Abd, dan beberapa
orang kaum Yahudi yang lainnya masuk Islam, beriman membenarkan Muhammad dan
mencintai Islam, berkatalah pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kufur di
antara mereka: Tiada akan beriman kepada Muhammad dan mengikutinya kecuali
orang-orang yang paling jahat di antara kami. Sekiranya mereka itu orang-orang
yang paling baik di antara kami, tentulah mereka tidak akan meninggalkan agama
nenek moyangnya dan berpindah ke agama lain. Maka Allah
menurunkan ayat tersebut di atas (Q.S. 3 Ali
Imran:113) yang menegaskan adanya perbedaan antara orang Yahudi yang jujur
karena beriman kepada Muhammad dan orang Yahudi yang kufur kepada Beliau.
(diriwayatkan leh Ibnu Abi Hatim, ath-Thabarani, dan Ibnu Mandah, yang
bersumber dari Ibnu Abbas).
Dalam
riwayat lain dikemukakan, ketika Rasulullah saw mengakhirkan shalat isya,
didapatinya di dalam mesjid orang-orang sedang menunggu shalat. Maka
bersabdalah beliau: ketahuilah, selain kalian tak ada seorang pun dari
penganut agama lain yang ingat kepada Allah (shalat) di saat malam begini. Maka
turunlah ayat tersebut di atas(Q.S. 3 Ali Imran:113—115) yang melukiskan
sifat-sifat kaum Mukminin. (diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang
bersumber dari Ibnu Mas’ud).[4]
199. dan Sesungguhnya
diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang
diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah
hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang
sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat
cepat perhitungan-Nya.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika datang berita
kematian an-Najasyi (Raja Najasyah), bersabdalah Rasulullah saw: mari kita
shalatkan! Para sahabat bertanya: Apakah kita menshalatkan seorang hamba
Habasyi? Maka turunlah ayat tersebut di atas (Q.S. 3 Ali Imran:199), sebagai
penegasan bahwa orang yang meniggal itu adalah seorang Mukmin. (diriwayatkan
oleh an-Nasai yang bersumber dari Anas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang
bersumber dari Jabir).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini
(Q.S. 3 Ali Imran:199) berkenaan dengan an-Najasyi. (diriwayatkan oleh al-Hakim
di dalam kitab al-Mustadrak, yang bersumber dari Abdullah bin Zubair).[6]
4.
Q.S. Al-Maidah
ayat 82-84
82. Sesungguhnya kamu
dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang
beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu
dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah
orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang
demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani)
terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka
tidak menymbongkan diri.
83. dan apabila
mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat
mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah
mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya
Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang
menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).
84. mengapa
Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada
Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam
golongan orang-orang yang saleh ?".
Dalam suatu riwayat pernah dikemukakan bahwa Rasululah
saw pernah mengutus Amr bin Umayyah adl-Dlamari untuk menyampaikan surat kepada
an-Najasyi. Sampainya dihadapan an-Najasyi, surat itu pun dibacanya. Kemudian
an-Najasyi memanggil Ja’far bin Abi Thalib dan orang-orang yang hijrah (ke
Habsyah) bersamanya serta para rahib dan paderi. Ia menyuruh Ja’far bin Abi
Thalib membaca al-Qur’an. Ja’far membacakan surat Maryam. Semua yang hadir
beriman kepada isi al-Qur’an dan berlinang-linang air matanya. Mereka inilah
yang disebut Allah di dalam ayat tersebut di atas (Q.S. 5 al-Maidah: 82—83).
(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musyabbah,
Abu Bakar bin Abdirrahman, dan Urwah bin Zubair).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa an-Najasyi
mengirim tiga puluh orang sahabat terbaiknya kepada Rasulullah saw. Rasulullah
saw membacakan surah yasin kepada mereka, sehingga mereka menangis. Maka
turunlah ayat ini (Q.S. 5 al-Maidah: 82—83) yang menceritakan adanya kaum rahib
dan pendeta nasrani yang tidak sombong dan beriman kepada apa yang diturunkan
kepada Rasulullah saw. (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari
Sa’id bin Jubair).
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini
(Q.S. 5 al-Maidah:83) berkenaan dengan an-Najasyi dan kawan-kawannya. Ayat
tersebut menegaskan bahwa mereka mencucurkan air mata bila mendengar ayat-ayat
yang diturunkan kepada Rasulullah (karena mereka yakin akan kebenarannya).
(diriwayatkan oleh an-Nasai yang bersumber dari Abdullah bin Zubair. Hadist
seperti ini diriwayatkan pula oleh ath-Thabrani yang bersumber dari Ibnu Abbas,
tetapi lebih jelas.[8]
B.
Penjelasan
Ayat
·
Sikap kaum
Yahudi, Kaum Musyrikin, dan Kaum Nasrani terhadap Kaum Muslimin
“Sesungguhnya kamu dapati
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman
ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…”
Bentuk kalimat ini boleh jadi
menunjukkan bahwa titah ini ditujukan kepada Rasulullah SAW dan boleh jadi
merupakan titah umum kepada seluruh umat Islam. Karena persoalan yang dihadapi
begitu jelas dan transparan dan dapat dijumpai oleh setiap orang. Kalau
demikian, maka yang perlu mendapatkan perhatian dalam struktur kalimat ini
adalah didahulukannya penyebutan kaum Yahudi daripada Kaum Musyrikin dalam
kapasitasnya sebagai manusia yang paling keras permusuhannya terhadap
orang-orang beriman. Sikap permusuhan mereka yang keras ini begitu jelas dan
transparan.[9]
Memang penghubungan dengan huruf wawu
(dan) di dalam struktur bahasa Arab menunjukkan penghimpunan dua hal dan
tidak menunjukkan perurutan. Tetapi di dahulukannya penyebutan kaum Yahudi di
sini, di mana terdapat dugaan bahwa tingkat permusuhan mereka terhadap orang
mukmin lebih kecil daripada kaum musyrikin karena mereka pada aslnya adalah
Ahli Kitab. Menjadikannya didahulukannya penyebutan mereka ini memiliki nuansa
khsus yang berbeda dengan kebiasaan penggunaan ‘athaf (penghubungan
kata/kalimat) dengan huruf wawa dalam struktur bahasa Arab.[10]
Dan bagi golongan Nasrani, dijelaskan pada
kalimat selanjutnya,
“dan Sesungguhnya kamu dapati yang
paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang
yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang demikian
itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat
pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak
menymbongkan diri..”
Maka al-Qur’an melukiskan sikap dan
sifat mereka dengan perkataannya,
”dan apabila mereka mendengarkan
apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan
air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari
Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah
beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas
kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). mengapa
Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada
Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam
golongan orang-orang yang saleh ?".
Ini
adalah sebuah pemandangan hidup yang dilukiskan al-Qur’an mengenai golongan
manusia yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman.
Yakni, bahwa mereka apabila mendengar al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah
SAW ini bergoncanglah perasaan mereka, luluhlah hati mereka, dan melelehlah air
mata mereka karena terkesan secara amat mendalam terhadap kebenaran yang mereka
dengar.[11]
·
Keterangan
kisah yang berkaitan dengan ayat
Ayat
ke 82 dan 83 diturunkan sehubunagn dengan Raja Najasyi yang beragama Nasrani
dan kawan-kawan pendeta. Ketika mereka mendengar ayat-ayat al- Qur’an dibacakan
dihadapan mereka, meleleh air mata mereka karena mereka yakin dan percaya
terhadap isi kandungan ayat-ayat tersebut.
Surat dakwah
kepada Najasyi, Raja Habsyi
Surat
yang dikirimkan kepada Najasyi, Raja Habsyi, dibawa oleh sahabat Amr bin Umayyah
adh-Dhamri, bunyinya adalah :[12]
“Dengan nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah.
Kepada Najasyi, al-Asham, Raja Habsyi, sejahteralah engkau. Sesungguhnya aku
memuji kepadamu dan kepada Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Yang mempunyai
kerajaan, Yang Mahasuci, Pemberi kesejahteraan, Pemberi kesentosaan, dan
Pemberi perlindungan. Aku menyaksikan bahwa Isa anak Maryam itu Ruh Allah dan
kalimatNya yang telah Ia berikan kepada Maryam, gadis yang baik, suci dan
disucikan lagi yang memelihara diri. Lalu, ia mengandungkan Isa, kemudian Allah
mencipakannya dari Ruh dan tiupanNya sebagaimana Dia menciptakan Adam dengan
tangan dan tiupanNya.
Sesungguhnya
aku berseru kepada engkau, hendaklah engkau menyembah kepada Allah saja, tidak
ada sekutu bagiNya, dan taat kepadaNya, juga supaya engkau mengikutiku dan
percaya kepada apa yang telah datang kepadaku karena sesungguhnya aku ini
utusan Allah. Aku mengajak engkau dan bala tentaramu supaya menyembah Allah
Yang Mahaluhur. Aku telah menyampaikan dan telah memperingakan, maka
hendaklahengkau menerima nasihatku. Aku telah menyuruh kepada engkau anak
lelaki pamanku sendiri, Ja’far namanya, dan serombongan orang-orang Islam yang
besertanya.
Semoga
kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk (yang benar).
Kemudian
Ash-Himah Najasyi, Raja Habsyi, menerima utusan
Nabi saw. yang membawa surat dakwah beliau dengan ramah dan sopan,
karena raja Habsyi ini pernah menerima kaum muslimin yang hijrah ke negrinya,
yaitu pada tahun kelima kenabian.
Najasyi,
ketika menerima surat dakwah dari Nabi saw. yang dibawa oleh Amr bin Umayyah
Adh-Dhamri, meletakkan surat itu di atas kedua matanya. Lalu, turunlah ia dari
kursi yang didudukinya lantas duduk di atas tanah. Seketika itu juga ia
menyatakan telah memeluk Islam. Kemudian ia menyuruh orang untuk mengambilkan
bejana kecil yang terbuat dari gading gajah dan surat dari Nabi saw. itu lalu
disimpan baik-baik di tempat itu. Sesudah selesai penyambutannya terhadap
utusan pembawa surat Nabi saw, ia menulis jawaban untuk Nabi saw. yang
berbunyi:[13]
“Dengan nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepada Muhammad utusan Allah dari
al-Asham bin Abjar.
Semoga
kesejahteraan selalu tercurah untuk engkau, ya Rasululloh, dan demikian juga
rahmat serta berkahNya. Allah adalah Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, yang
telah menunjukkanku kepada Islam. Sesungguhnya telah sampai kepada saya surat
engkau, ya Rasulullah. Maka, apa yang telah engkau sebutkan tentang urusan Isa
alahi salam, demi Tuhan pemelihara langit dan bumi, sesungguhnya Isa itu tidak
melebihi sedikitpun atas apa yang telah engkau sebutkan. Dia tentu seperti apa
yang engkau katakan. Sesungguhnya, kami telah mengenal apa yang telah
dikirimkan kepada kami, dan kami telah menyambut baik kedatangan anak dari
paman engkau dan juga kawan-kawannya. Saya bersaksi bahwasanya engkau adalah
utusan Allah, yang benar serta dibenarkan. Sesungguhnya, saya berbaiat kepada
engkau dan saya pun telah berbaiat dengan anak laki-laki dari paman engkau.
Saya telah memeluk Islam dihadapannya karena Allah seru sekalian alam.
Sesungguhnya saya telah mengutus anak lelaki saya bernama Arha bin Ash-Sham bin
Abjar kepada engkau karena sesungguhnya saya ini tidak memiliki apa-apa
melainkan diri saya sendiri. Jika engkau menghendaki supaya saya datang
menghadap kepada engkau, saya pun akan mengerjakannnya, ya Rasulullah. Karena,
sesungguhnya saya bersaksi bahwa apa yang engkau katakan itu benar.
Kesejahteraan
semoga tercurah atas engkau, ya Rasulullah.”
Demikian surat
jawaban Najasyi kepada nabi saw. yang dibawa oleh sahabat Amr bin Umayyah
adh-Dhamri. Lalu surat itu dibawanya agar disampaikan kepada nabi.
Dikisahkan
juga bahwa Raja Najasyi pernah memberi bantuan kepada pasukan perang mukmin.
Ibnu Ishak berkata: “salah seorang dari Saba’ yang bernama Daus Dzu Tsa’labah
selamat dari pembunuhan masal oleh Dzu Nuwas”. Ia melarikan diri dengan
mengendarai kudanya dan mengarungi tanah lumpur hingga tidak mampu dikejar
pasukan Dzu Nuwas. Ia terus berjalan hingga tiba di kaisar guna meminta bantuan
kepada raja Romawi untuk menghadapi Dzu Nuwas dan pasukannya. Ia jelaskan
kepadanya perlakuan pasukan Dzu Nuwas terhadap dirinya. Kaisar berkata kepada
Daus, “sayang negrimu jauh dari kami, namun aku akan menulis surat kepada raja
Habasyah karena ia seagama denganmu, dan ia sangat dekat dengan negrimu”.
Kaisar menulis surat kepada raja Habasyah. Dalam suratnya, kaisar menyuruh
kepada Raja Habasyah memberi bantuan kepada Daus dan mengambil tindakan atas
perlakuan Dzu Nuwas. [14]
Daus tiba di
tempat Najasyi dengan membawa surat kaisar, kemudian Najasyi membantunya dengan
pasukan yang berkekuatan 70.000 personil, dan pasukan tersebut dikomandani
salah seorang dari mereka yang bernama
Aryath, dan salah seorang dari anak buahnya ialah AbrahahAl-Asyram.
Aryath dan pasukannya termasuk Daus Dzu Tsa’labah mengarungi lautan hingga tiba
di pesisir Yaman.
Kematian raja
Najasyi
Menurut
riwayat, pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriyah, Raja Najasyi yang memegang
kekuasaan di Habsyi meninggal dunia. Kabar wafatnya raja Najasyi tersebut
disampaikan kepada nabi saw. di Madinah. Karena raja Najasyi adalah seorang
raja yang yang tulus menganut agama Islam dan membela agama Islam karena Allah,
diantaranya dengan memberi bantuan baik moral maupun materil kepada kaum
muslimin yang berhijrah ke negaranya, sebagaimana yang telah diriwayatkan, maka
Nabi saw. menerima berita itu dan memerintahkan kaum muslimin untuk shalat gaib
untuknya. Sabda Nabi saw:[15]
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى
أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ أَخْبَرَهُمْ قَالَ
أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ
تُوُفِّيَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ مِنْ الْحَبَشِ فَهَلُمَّ فَصَلُّوا عَلَيْهِ قَالَ
فَصَفَفْنَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ
وَنَحْنُ مَعَهُ صُفُوفٌ قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ كُنْتُ فِي
الصَّفِّ الثَّانِ
(hadits nomor 1236 shahih bukhori)
Maka seketika
itu, nabi saw. bersama-sama kaum muslimin mengerjakan shalat gaib. Diriwayatkan
pula, bahwa saat Nabi melakukan shalat gaib untuk jenazah raja Najasyi di
Habsyi, ada seseorang dari kaum munafik berkata “Lihatlah, Muhammad sedang
menyembahyangkan jenazah orang kafir yang bukan bangsa Arab.” Sehubungan dengan
hal itu Allah berfirman:
199.
dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan
kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang
mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah
dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya.
Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.
BAB III
KESIMPULAN
a)
Terdapat
beberapa ayat yang di dalamnya Allah menyebutkan beberapa golongan umat yang
ada di dunia ini. Allah banyak menyebut mereka sesuai dengan karakteristik dari
masing-masing golongan.
b)
Struktur
kalimat dalam ayat adalah didahulukannya penyebutan kaum Yahudi daripada Kaum
Musyrikin dalam kapasitasnya sebagai manusia yang paling keras permusuhannya
terhadap orang-orang beriman. Sikap permusuhan mereka yang keras ini begitu
jelas dan transparan.
c)
Di
dahulukannya penyebutan kaum Yahudi di sini, di mana terdapat dugaan bahwa
tingkat permusuhan mereka terhadap orang mukmin lebih kecil daripada kaum
musyrikin karena mereka pada aslnya adalah Ahli Kitab.
d)
Kaum Nasrani
adalah golongan manusia yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang
yang beriman. Yakni, bahwa mereka apabila mendengar al-Qur’an diturunkan kepada
Rasulullah SAW ini bergoncanglah perasaan mereka, luluhlah hati mereka, dan
melelehlah air mata mereka karena terkesan secara amat mendalam terhadap
kebenaran yang mereka dengar.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Departemen Agama RI.
Mahali, A.
Mudjab. Asbabun Nuzul : Studi Pendalaman al-Qur’an. Jakarta: Rajawali
Press. 1989
Chalil, K.H.
Moenawar. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad jilid 4 dan 5. Jakarta: Gema
Insani. 2001
Quthb, Sayyid. Tafsir
Fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan al-Qur’an jilid 6. Jakarta: Gema
Insani. 2002
Shaleh, K.H.Q.
Dahlan, H.A.A. dkk. Ababun Nuzul edisi ke 2. Bandung : Penerbit
Diponegoro. 2000
[1] Q.S. Al-Maidah ayat 82
[2] Q. S. Ali Imran ayat 110
[3] Q. S. Ali Imran ayat 113-114
[4] K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan dkk, Asbabun Nuzul edisi ke 2, (Bandung:
Penerbit Diponegoro, 2000),hlm. 108-109
[5] Q. S. Ali Imran ayat 199
[6] K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan dkk, Asbabun Nuzul edisi ke 2, (Bandung:
Penerbit Diponegoro, 2000),hlm. 126
[7] Q. S. Al-Maidah ayat 82-84
[8] K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan dkk, Asbabun Nuzul edisi ke 2, (Bandung:
Penerbit Diponegoro, 2000),hlm. 203-205
[9]Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan al-Qur’an.
(Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm.165
[10] Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan
al-Qur’an. (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm.166
[11] Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan
al-Qur’an. (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm.170
[13] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad jilid 5. (Jakarta:
Gema Insani: 2001), hlm. 105
[14] Ibnu Hisyam. Sirah nabawiyah.
[15] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad jilid 4. (Jakarta:
Gema Insani: 2001) hlm. 160
Tidak ada komentar:
Posting Komentar