Selasa, 28 April 2015

Ajaran Pokok Agama Hindu



Ajaran pokok Agama Hindu
1.       Tujuan Agama Hindu
·         Tujuan utamanya adalah Moksartham jagaddhitaya ca iti dharmah artinya “tujuan beragama Hindu atau Dharma adalah untuk mendapatkan Moksa dan Jagaddhita”.
·         Moksa adalah kebebasan roh dari ikatan duniawi, bebas dari dosa.
·         Jagaddhita: kebahagiaan, kesejahteraan, kemakmuran umat manusia, kelestarian serta kedamaian dunia.
2.       Keimanan Hindu
·         Pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dapat dibagi dalam lima bagian yang disebut Panca Sradddha:
a)      Percaya terhadap adanya Brahman (sang Hyang Widhi)
Sang Hyang Widhi adalah yang kuasa atas segala yang ada di alam ini.
b)      Percaya terhadap Atman.
Atman adalah percikan kecil dari Paratman. Atman yang menghidupi badan disebut jiwatman. Jiwatman dapat dipengaruhi karma, hasil perbuatan di dunia. Menurut ajaran Hindu, jiwatman seseorang yang meninggal dapat mencapai surga atau jatuh ke neraka.
c)       Percaya terhadap Hukum Karmaphala
Buah dari perbuatan disebut phala. Phala tidak bisa langsung dirasakan, terkadang phala baru bisa dirasakan hasilnya setelah kehidupan yang akan datang.
d)      Percaya terhadap adanya Punarbawa.
Punarbawa atau samsara adalah lingkaran kelahiran karena roh tidak selamanya berada di surga ataupun neraka, akan tetapi ia akan lahir kembali. Bentuk dari kelahiran selanjutnya itu tergantung dari karmawasana (bekas-bekas perbuatan) terdahulu. Apabila ia membawa karma baik, berarti akan terlahir dengan bentuk yang lebih baik, beitu juga sebaliknya. Kelahiran kembali ini merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala dosa yang dilakukan di masa lalu.
e)      Percaya terhadap adanya moksa.
Moksa artinya kelepasan. Orang yang telah mencapai moksa tidak lahir kembali ke dunia, karena tidak ada apa pun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paratman, Sang Hyang Widhi.
3.       Satya
·         Satya ada yang mengartikan dengan kebenaran, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
·         Satya yang mempunyai arti kesetiaan atau kejujuran.
4.       Rta
·         Rta (baca: Rita) atau Reta merupakan bentuk hukum Tuhan yang murni, yang bersifat absolut transedental.
·         Bentuk hukuman yang dijabarkan ke dalam amalan manusiawi disebut dharma.
5.       Diksa
·         Diksa berarti penyucian atau pensucian. Diksa adalah cara untuk melewati satu fase kehidupan  menuju fase selanjutnya yang lebih baik.
·         Tujuan diksa adalah untuk mensucikan seseorang secara lahir dan batin.
6.       Tapa
·         Kata tapa mempunyai arti penguasaan atas nafsu atau menjalani kehidupan suci. Untuk dapat hidup baik atau suci, seseorang harus dapat menguasai dirinya sendiri. Penguasaan terhadap diri sendiri adalah penguasaan atas penguasaan atas panca indra dan pikiran (manah).
7.       Brahman
·         Brahman atau pujian adalah semacam matra doa yang dalam sehaari-hari disebut mantra atau stuti. Mantra adalah ayat-ayat suci yang dipergunakan untuk melakukan pemujaan.
·         Kata lain yang sering digunakan untuk arti yang sama adalah stortra atau stawa.
8.       Yajna (yadnya)
·         Pengertian yadyna yang dipergunakan dalam bahasa sehari-hari adalah upacara keagamaan yang sama artinya sebagai samskara. Secara popular istilah ini dikenal dengan rituil atau ritual.
9.       Sad darsana
·         Sad darsana artinya enam pemikiran filsafat yang diterima dan diakui sebagai bagian yang tidak dapat dilepaskan dari system kepercayaan agama Hindu. Keenam filsafat itu antara lain:
a.     Filsafat Samkhya
ü  Pendiri ajaran ini bernama Maharsi Kapila, yang menulis Samkhyasutra. Menurutnya, hakekat manusia dan alam semesta terdiri dari dua unsur, yaitu purusa, asas kejiwaan (rohani), dan prakrti, asas badani (materi/jasmani)
ü  Prakrti dibangun oleh sattwam, Rajas, Tamas. Sattwam yaitu alam kesenangan yang ringan, terang, dan bercahaya. Rajas adalah unsur penggerak benda di dunia ini. Tamas ialah unsur yang menyebabkan sesuatu menjadi pasif dan bersifat negatif.
ü  Menurut ajaran Samkhya, ada tiga sumber untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu: Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana, Sabda Pramana. Pratyaksa Pramana adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan. Anumana Pramana yaitu pengetahuan yang didapat dengan kesimpulan. Sabda Pramana ialah pernyataan dari Yang Kuasa yang memberikan pengetahuan mengenai suatu obyek yang tidak dapat diketahui atas dasar pengetahuan pengamatan dan penarikan kesimpulan.
ü  Tujuan akhir dari filsafat Samkhya adalah moksa atau kelepasan. Dalam ajaran Samkhya, kelepasan itu adalah penghentian yang sempurna dari semua penderitaan.
b.     Filsafat Yoga
ü  Pembangun ajaran ini adalah Maharsi Patanjali.
ü  Ajaran yoga ini merupakan bantuan bagi mereka yang ingin meningkatkan diri dalam bidang rohani.
ü  Kitab Yogasutra karangan Patanjali terbgi menjadi empat bagian. Pertama, samadhipada, isinya tentang ajaran yoga. Kedua, Sadhanapada, memuat tentang cara pelaksanaan yoga. Ketiga, wibhutipada, berisi segi batiniah ajaran yoga tentang kekuatan gaib yang diperoleh dalam yoga. Keempat, kaiwayalpada, melukiskan tentang alam kelepasan dan kenyataan roh yang mengatasi alam duniawi.
c.      Filsafat Mimamsa
ü  Pendiri ajaran ini ialah Maharsi Jaimini.
ü  Sumber utamanya adalah keyakinan akan kebenaran dan kemutlakan upacara dalam kitab Weda (Brahmana Kalpasutra)
ü  Ajaran ini mengajarkan bahwa moksa adalah tujuan akhir umat manusia, dan jalan untuk mencapainya dengan melaksanakan upacara keagamaan.
d.     Filsafat Nyaya
ü  Pendirinya adalah Maharsi Gaotama.
ü  System Nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis.
ü  Filsafat ini menggunakan empat metode dalam memecahkan ilmu pengetahuan: Pratyaksa, pengamatan langsung melalui panca indra. Anumana, pengetahuan yang diperoleh dari suat obyek dengan menarik pengertian dari tanda-tanda yang diperoleh. Upamana, ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui perbandingan. Sabda, ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan mendengarkan atau melalui penjelasan dari sumber-sumber yang patut dipercaya.
e.     Filsafat Waisesika.
ü  Pendirinya Maharsi Kanada.
ü  Tujuan pokoknya bersifat metafisis.
ü  Isi pokok ajarannya menjelaskan tentang dharma yaitu apa yang memberikan kesejahteraan, memberikan kelepasan, dan menentukan di dunia ini.
f.       Filsafat Wedanta.
ü  Pendirinya Maharsi Vyasa.
ü  Sumber ajarannya adalah kitab-kitab Upanisad.
ü  Sifat ajarannya absolutisme dan teisme. Absolutism adalah aliran yang meyakini bahwa Tuhan YME adalah mutlak dan tidak berpribadi (impersonal God), sedangkan teisme yang meyakini Tuhan yang berpribadi (personal God).


Maav……
Banyak…..

Ahl al-Kitab dalam al-Qur'an



BAB I
PENDAHALUAN
A.     Latar belakang
Al-Qur’an adalah sumber pedoman bagi umat manusia untuk menuntun kepada jalan kebenaran. Banyak pelajaran yang terdapat di dalam al-Qur’an, salah satumya adalah kisah tentang umat yang terdahulu. Di dalam firman-Nya, Allah tidak hanya selalu menyebut umat Islam sebagai figur utama dalam al-Qur’an ataupun Islam sendiri. Terdapat beberapa ayat yang di dalamnya Allah menyebutkan beberapa golongan umat yang ada di dunia ini.
Yang akan menjadi kajian fokus dalam pembahasan kali ini adalah golongan Ahli Kitab. Allah banyak menyebut mereka sesuai dengan karakteristik dari masing-masing Ahli Kitab. Ada yang Allah sebutkan sebagai golongan yang sangat membenci dan bermusuhan dengan kaum mukmin, ada juga yang Allah sebutkan sebagai golongan yang paling dekat persahabatannya dengan kaum mukmin.  Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah, Q. S. Al-Maidah ayat 82 :

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.
Maka di sini kami akan mencoba memaparkan bagaimana al-Qur’an bercerita tentang Ahli Kitab dan karakteristik masing-masing, kaitan satu golongan dengan golongan lainnya.
B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari penjelasan di atas adalah :
1.      Bagaimana Asbabun Nuzul (aspek historis) ayat yang berbicara tentang Ahli kitab ?
2.      Bagaimana kisah para Ahli Kitab yang diceritakan dalam al-Qur’an ?
3.      Bagaimana sikap dan sifat dari masing-maasing Ahli Kitab yang dijelaskan dalam al-Qur’an ?
C.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Mengetahui Asbabun Nuzul ayat yang berbicara tentang Ahli Kitab
2.      Mengetahui Kisah para Ahli Kitab yang diceritakan dalam al-Qur’an
3.      Mengetahui sikap dan sifat dari masing-masing Ahli Kitab yang dijelaskan dalam al-Qur’an



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Asbabun Nuzul Ayat
1.      Q.S. Ali Imran ayat 110
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
2.      Q.S. Ali Imran ayat 113 dan 114

113. mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang Berlaku lurus [221], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
[221] Yakni: golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.

114. mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang Munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu Termasuk orang-orang yang saleh.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Abdullah bin Salam, Tsa’labah bin Sa’yah, Usaid bin Sa’yah, As’ad bin Abd, dan beberapa orang kaum Yahudi yang lainnya masuk Islam, beriman membenarkan Muhammad dan mencintai Islam, berkatalah pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kufur di antara mereka: Tiada akan beriman kepada Muhammad dan mengikutinya kecuali orang-orang yang paling jahat di antara kami. Sekiranya mereka itu orang-orang yang paling baik di antara kami, tentulah mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyangnya dan berpindah ke agama lain. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Q.S. 3 Ali Imran:113) yang menegaskan adanya perbedaan antara orang Yahudi yang jujur karena beriman kepada Muhammad dan orang Yahudi yang kufur kepada Beliau. (diriwayatkan leh Ibnu Abi Hatim, ath-Thabarani, dan Ibnu Mandah, yang bersumber dari Ibnu Abbas).
     Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika Rasulullah saw mengakhirkan shalat isya, didapatinya di dalam mesjid orang-orang sedang menunggu shalat. Maka bersabdalah beliau: ketahuilah, selain kalian tak ada seorang pun dari penganut agama lain yang ingat kepada Allah (shalat) di saat malam begini. Maka turunlah ayat tersebut di atas(Q.S. 3 Ali Imran:113—115) yang melukiskan sifat-sifat kaum Mukminin. (diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud).[4]
3.      Q.S. Ali Imran ayat 199  [5]
199. dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika datang berita kematian an-Najasyi (Raja Najasyah), bersabdalah Rasulullah saw: mari kita shalatkan! Para sahabat bertanya: Apakah kita menshalatkan seorang hamba Habasyi? Maka turunlah ayat tersebut di atas (Q.S. 3 Ali Imran:199), sebagai penegasan bahwa orang yang meniggal itu adalah seorang Mukmin. (diriwayatkan oleh an-Nasai yang bersumber dari Anas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Jabir).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (Q.S. 3 Ali Imran:199) berkenaan dengan an-Najasyi. (diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam kitab al-Mustadrak, yang bersumber dari Abdullah bin Zubair).[6]
4.      Q.S. Al-Maidah ayat 82-84
   [7]
82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.
83. dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).
84. mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?".
Dalam suatu riwayat pernah dikemukakan bahwa Rasululah saw pernah mengutus Amr bin Umayyah adl-Dlamari untuk menyampaikan surat kepada an-Najasyi. Sampainya dihadapan an-Najasyi, surat itu pun dibacanya. Kemudian an-Najasyi memanggil Ja’far bin Abi Thalib dan orang-orang yang hijrah (ke Habsyah) bersamanya serta para rahib dan paderi. Ia menyuruh Ja’far bin Abi Thalib membaca al-Qur’an. Ja’far membacakan surat Maryam. Semua yang hadir beriman kepada isi al-Qur’an dan berlinang-linang air matanya. Mereka inilah yang disebut Allah di dalam ayat tersebut di atas (Q.S. 5 al-Maidah: 82—83). (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musyabbah, Abu Bakar bin Abdirrahman, dan Urwah bin Zubair).
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa an-Najasyi mengirim tiga puluh orang sahabat terbaiknya kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw membacakan surah yasin kepada mereka, sehingga mereka menangis. Maka turunlah ayat ini (Q.S. 5 al-Maidah: 82—83) yang menceritakan adanya kaum rahib dan pendeta nasrani yang tidak sombong dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw. (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair).
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (Q.S. 5 al-Maidah:83) berkenaan dengan an-Najasyi dan kawan-kawannya. Ayat tersebut menegaskan bahwa mereka mencucurkan air mata bila mendengar ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasulullah (karena mereka yakin akan kebenarannya). (diriwayatkan oleh an-Nasai yang bersumber dari Abdullah bin Zubair. Hadist seperti ini diriwayatkan pula oleh ath-Thabrani yang bersumber dari Ibnu Abbas, tetapi lebih jelas.[8]
B.     Penjelasan Ayat
·         Sikap kaum Yahudi, Kaum Musyrikin, dan Kaum Nasrani terhadap Kaum Muslimin
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…
            Bentuk kalimat ini boleh jadi menunjukkan bahwa titah ini ditujukan kepada Rasulullah SAW dan boleh jadi merupakan titah umum kepada seluruh umat Islam. Karena persoalan yang dihadapi begitu jelas dan transparan dan dapat dijumpai oleh setiap orang. Kalau demikian, maka yang perlu mendapatkan perhatian dalam struktur kalimat ini adalah didahulukannya penyebutan kaum Yahudi daripada Kaum Musyrikin dalam kapasitasnya sebagai manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman. Sikap permusuhan mereka yang keras ini begitu jelas dan transparan.[9]
            Memang penghubungan dengan huruf wawu (dan) di dalam struktur bahasa Arab menunjukkan penghimpunan dua hal dan tidak menunjukkan perurutan. Tetapi di dahulukannya penyebutan kaum Yahudi di sini, di mana terdapat dugaan bahwa tingkat permusuhan mereka terhadap orang mukmin lebih kecil daripada kaum musyrikin karena mereka pada aslnya adalah Ahli Kitab. Menjadikannya didahulukannya penyebutan mereka ini memiliki nuansa khsus yang berbeda dengan kebiasaan penggunaan ‘athaf (penghubungan kata/kalimat) dengan huruf wawa dalam struktur bahasa Arab.[10]
    Dan bagi golongan Nasrani, dijelaskan pada kalimat selanjutnya,
“dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri..”

Maka al-Qur’an melukiskan sikap dan sifat mereka dengan perkataannya,
”dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?".
                  Ini adalah sebuah pemandangan hidup yang dilukiskan al-Qur’an mengenai golongan manusia yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman. Yakni, bahwa mereka apabila mendengar al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW ini bergoncanglah perasaan mereka, luluhlah hati mereka, dan melelehlah air mata mereka karena terkesan secara amat mendalam terhadap kebenaran yang mereka dengar.[11]
     
·         Keterangan kisah yang berkaitan dengan ayat
            Ayat ke 82 dan 83 diturunkan sehubunagn dengan Raja Najasyi yang beragama Nasrani dan kawan-kawan pendeta. Ketika mereka mendengar ayat-ayat al- Qur’an dibacakan dihadapan mereka, meleleh air mata mereka karena mereka yakin dan percaya terhadap isi kandungan ayat-ayat tersebut.
Surat dakwah kepada Najasyi, Raja Habsyi
            Surat yang dikirimkan kepada Najasyi, Raja Habsyi, dibawa oleh sahabat Amr bin Umayyah adh-Dhamri, bunyinya adalah :[12]
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah. Kepada Najasyi, al-Asham, Raja Habsyi, sejahteralah engkau. Sesungguhnya aku memuji kepadamu dan kepada Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Yang mempunyai kerajaan, Yang Mahasuci, Pemberi kesejahteraan, Pemberi kesentosaan, dan Pemberi perlindungan. Aku menyaksikan bahwa Isa anak Maryam itu Ruh Allah dan kalimatNya yang telah Ia berikan kepada Maryam, gadis yang baik, suci dan disucikan lagi yang memelihara diri. Lalu, ia mengandungkan Isa, kemudian Allah mencipakannya dari Ruh dan tiupanNya sebagaimana Dia menciptakan Adam dengan tangan dan tiupanNya.
Sesungguhnya aku berseru kepada engkau, hendaklah engkau menyembah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya, dan taat kepadaNya, juga supaya engkau mengikutiku dan percaya kepada apa yang telah datang kepadaku karena sesungguhnya aku ini utusan Allah. Aku mengajak engkau dan bala tentaramu supaya menyembah Allah Yang Mahaluhur. Aku telah menyampaikan dan telah memperingakan, maka hendaklahengkau menerima nasihatku. Aku telah menyuruh kepada engkau anak lelaki pamanku sendiri, Ja’far namanya, dan serombongan orang-orang Islam yang besertanya.
Semoga kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk (yang benar).
Kemudian Ash-Himah Najasyi, Raja Habsyi, menerima utusan  Nabi saw. yang membawa surat dakwah beliau dengan ramah dan sopan, karena raja Habsyi ini pernah menerima kaum muslimin yang hijrah ke negrinya, yaitu pada tahun kelima kenabian.
Najasyi, ketika menerima surat dakwah dari Nabi saw. yang dibawa oleh Amr bin Umayyah Adh-Dhamri, meletakkan surat itu di atas kedua matanya. Lalu, turunlah ia dari kursi yang didudukinya lantas duduk di atas tanah. Seketika itu juga ia menyatakan telah memeluk Islam. Kemudian ia menyuruh orang untuk mengambilkan bejana kecil yang terbuat dari gading gajah dan surat dari Nabi saw. itu lalu disimpan baik-baik di tempat itu. Sesudah selesai penyambutannya terhadap utusan pembawa surat Nabi saw, ia menulis jawaban untuk Nabi saw. yang berbunyi:[13]
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepada Muhammad utusan Allah dari al-Asham bin Abjar.
Semoga kesejahteraan selalu tercurah untuk engkau, ya Rasululloh, dan demikian juga rahmat serta berkahNya. Allah adalah Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, yang telah menunjukkanku kepada Islam. Sesungguhnya telah sampai kepada saya surat engkau, ya Rasulullah. Maka, apa yang telah engkau sebutkan tentang urusan Isa alahi salam, demi Tuhan pemelihara langit dan bumi, sesungguhnya Isa itu tidak melebihi sedikitpun atas apa yang telah engkau sebutkan. Dia tentu seperti apa yang engkau katakan. Sesungguhnya, kami telah mengenal apa yang telah dikirimkan kepada kami, dan kami telah menyambut baik kedatangan anak dari paman engkau dan juga kawan-kawannya. Saya bersaksi bahwasanya engkau adalah utusan Allah, yang benar serta dibenarkan. Sesungguhnya, saya berbaiat kepada engkau dan saya pun telah berbaiat dengan anak laki-laki dari paman engkau. Saya telah memeluk Islam dihadapannya karena Allah seru sekalian alam. Sesungguhnya saya telah mengutus anak lelaki saya bernama Arha bin Ash-Sham bin Abjar kepada engkau karena sesungguhnya saya ini tidak memiliki apa-apa melainkan diri saya sendiri. Jika engkau menghendaki supaya saya datang menghadap kepada engkau, saya pun akan mengerjakannnya, ya Rasulullah. Karena, sesungguhnya saya bersaksi bahwa apa yang engkau katakan itu benar.
Kesejahteraan semoga tercurah atas engkau, ya Rasulullah.”
Demikian surat jawaban Najasyi kepada nabi saw. yang dibawa oleh sahabat Amr bin Umayyah adh-Dhamri. Lalu surat itu dibawanya agar disampaikan kepada nabi.
Dikisahkan juga bahwa Raja Najasyi pernah memberi bantuan kepada pasukan perang mukmin. Ibnu Ishak berkata: “salah seorang dari Saba’ yang bernama Daus Dzu Tsa’labah selamat dari pembunuhan masal oleh Dzu Nuwas”. Ia melarikan diri dengan mengendarai kudanya dan mengarungi tanah lumpur hingga tidak mampu dikejar pasukan Dzu Nuwas. Ia terus berjalan hingga tiba di kaisar guna meminta bantuan kepada raja Romawi untuk menghadapi Dzu Nuwas dan pasukannya. Ia jelaskan kepadanya perlakuan pasukan Dzu Nuwas terhadap dirinya. Kaisar berkata kepada Daus, “sayang negrimu jauh dari kami, namun aku akan menulis surat kepada raja Habasyah karena ia seagama denganmu, dan ia sangat dekat dengan negrimu”. Kaisar menulis surat kepada raja Habasyah. Dalam suratnya, kaisar menyuruh kepada Raja Habasyah memberi bantuan kepada Daus dan mengambil tindakan atas perlakuan Dzu Nuwas. [14]
Daus tiba di tempat Najasyi dengan membawa surat kaisar, kemudian Najasyi membantunya dengan pasukan yang berkekuatan 70.000 personil, dan pasukan tersebut dikomandani salah seorang dari mereka yang bernama  Aryath, dan salah seorang dari anak buahnya ialah AbrahahAl-Asyram. Aryath dan pasukannya termasuk Daus Dzu Tsa’labah mengarungi lautan hingga tiba di pesisir  Yaman.
Kematian raja Najasyi
Menurut riwayat, pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriyah, Raja Najasyi yang memegang kekuasaan di Habsyi meninggal dunia. Kabar wafatnya raja Najasyi tersebut disampaikan kepada nabi saw. di Madinah. Karena raja Najasyi adalah seorang raja yang yang tulus menganut agama Islam dan membela agama Islam karena Allah, diantaranya dengan memberi bantuan baik moral maupun materil kepada kaum muslimin yang berhijrah ke negaranya, sebagaimana yang telah diriwayatkan, maka Nabi saw. menerima berita itu dan memerintahkan kaum muslimin untuk shalat gaib untuknya. Sabda Nabi saw:[15]
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ أَخْبَرَهُمْ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تُوُفِّيَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ مِنْ الْحَبَشِ فَهَلُمَّ فَصَلُّوا عَلَيْهِ قَالَ فَصَفَفْنَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَنَحْنُ مَعَهُ صُفُوفٌ قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ كُنْتُ فِي الصَّفِّ الثَّانِ
(hadits nomor 1236 shahih bukhori)
Maka seketika itu, nabi saw. bersama-sama kaum muslimin mengerjakan shalat gaib. Diriwayatkan pula, bahwa saat Nabi melakukan shalat gaib untuk jenazah raja Najasyi di Habsyi, ada seseorang dari kaum munafik berkata “Lihatlah, Muhammad sedang menyembahyangkan jenazah orang kafir yang bukan bangsa Arab.” Sehubungan dengan hal itu Allah berfirman:


199. dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.














BAB III
KESIMPULAN
a)      Terdapat beberapa ayat yang di dalamnya Allah menyebutkan beberapa golongan umat yang ada di dunia ini. Allah banyak menyebut mereka sesuai dengan karakteristik dari masing-masing golongan.
b)      Struktur kalimat dalam ayat adalah didahulukannya penyebutan kaum Yahudi daripada Kaum Musyrikin dalam kapasitasnya sebagai manusia yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman. Sikap permusuhan mereka yang keras ini begitu jelas dan transparan.
c)      Di dahulukannya penyebutan kaum Yahudi di sini, di mana terdapat dugaan bahwa tingkat permusuhan mereka terhadap orang mukmin lebih kecil daripada kaum musyrikin karena mereka pada aslnya adalah Ahli Kitab.
d)     Kaum Nasrani adalah golongan manusia yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman. Yakni, bahwa mereka apabila mendengar al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW ini bergoncanglah perasaan mereka, luluhlah hati mereka, dan melelehlah air mata mereka karena terkesan secara amat mendalam terhadap kebenaran yang mereka dengar.












DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Departemen Agama RI.
Mahali, A. Mudjab. Asbabun Nuzul : Studi Pendalaman al-Qur’an. Jakarta: Rajawali Press.      1989
Chalil, K.H. Moenawar. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad jilid 4 dan 5. Jakarta: Gema Insani. 2001
Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan al-Qur’an jilid 6. Jakarta: Gema Insani. 2002
Shaleh, K.H.Q. Dahlan, H.A.A. dkk. Ababun Nuzul edisi ke 2. Bandung : Penerbit Diponegoro. 2000


[1] Q.S. Al-Maidah ayat 82
[2] Q. S. Ali Imran ayat 110
[3] Q. S. Ali Imran ayat 113-114
[4] K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan dkk, Asbabun Nuzul edisi ke 2, (Bandung: Penerbit Diponegoro, 2000),hlm. 108-109
[5] Q. S. Ali Imran ayat 199
[6] K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan dkk, Asbabun Nuzul edisi ke 2, (Bandung: Penerbit Diponegoro, 2000),hlm. 126
[7] Q. S. Al-Maidah ayat 82-84
[8] K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan dkk, Asbabun Nuzul edisi ke 2, (Bandung: Penerbit Diponegoro, 2000),hlm. 203-205
[9]Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan al-Qur’an. (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm.165
[10] Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan al-Qur’an. (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm.166

[11] Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an: di bawah naungan al-Qur’an. (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm.170


[13] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad jilid 5. (Jakarta: Gema Insani: 2001), hlm. 105
[14] Ibnu Hisyam. Sirah nabawiyah.
[15] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad jilid 4. (Jakarta: Gema Insani: 2001) hlm. 160