Senin, 27 April 2015

Hindu dan Budha




I.                   Ajaran pokok dalam Hindu
            Dalam buku “Agama Kita” karangan Djam’annuri disebutkan ada beberapa  pokok-pokok ajaran agama Hindu:
a.     Tujuan agama Hindu
Tujuan agama Hindu adalah “Moksartham jagaddhitaya ca iti dharmah” yang berarti “tujuan beragama atau berdharma adalah untuk mendapatkan Moksa dan Jagadditha’. Pengertian ini diambil dari definisi agama yang diungkapkan oleh Swami Vivekananda, guru rohani India yaitu: Atmanam moksartham jagaddithaya ca yang bermakna agama adalah untuk mencapai kelapasan, kebebasan atau kesempurnaan roh (moksa), kesejahteraan umat manusia, kedamaian dan kelestarian dunia (jagaddhita).
b.     Keimanan Hindu
Jiwa dari agama adalah kepercayaan. Dalam agama Hindu, iman disebut dengan sraddha. Sraddha sebagai kepercayaan dirumuskan sebagaimana termuat dalam Atharwa Weda XII.1.1sebagai berikut;
Satyam brhad rtam ugram diksa
tapo brahma yajna prthiwim dharayanti
Artinya :
Sesungguhnya satya, rta, diksa,
tapa, brahma dan yajna yang menyangga dunia
Dari ayat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keenam unsur tersebut (satya, rta, diksa,tapa, brahma dan yajna) merupakan unsur dharma yang memelihara kehidupan ini.


c.      Satya
Kata satya dalam bahasa Sanskerta dipergunakan dalam banyak hubungan karena dapat berarti macam-macam. Adapun arti kata satya antara lain:
1.  Satya yang berarti kebenaran, yaitu merupakan sifat hakikat dar Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kata itu diartikan sama sebagai Ketuhana Yang Maha Esa.
2.  Satya berarti kejujuran, dengan pengertian tersebut maka ajaran Satya Tattawa, yang merupakan pokok pertama dari ajaran Sraddha, menurut kitab Atharwa Weda harus diartikan sama dengan Widhi Tattawa atau Brahma Tattawa dalam ajaran Panca Sraddha.
d.     Rta
Rta (baca: Rita) atau Reta merupakan eksistensi dari hukum Tuhan yang murni dan bersifat absolute-transendental. Bentuk hukumnya yang diaplikasikan kedalam perbuatan manusia disebut Dharma dan bersifat relative.
e.      Diksa
Diksa berarti pensucian atau penyucian, pentahbisan atau inisiasi. Sebagai unsur pokok keimanan, bersamaan dengan tapa dan yajna, diksa dianggap sebagai satu rangkaian pengertian yang arti dan fungsinya sama sebagai alat untuk sampai pada kesucian. Diksa dapat ditempuh melalui brata, dan dengan brata itu seseorang didiksa. Orang yang telah didiksa disebut Diksita, orang yang memiliki wejangan untuk melakukan upacara, yaitu ngelokapalasraya. Jadi, diksa adalah cara untuk melewati satu fase ke fase yang lain, dari kehidupan yang belum sempurna kepada kehidupan yang sempurna.
f.       Tapa
Tapa atau pengendalian diri merupakan unsur keimanan yang kelima menurut katentuan Atharwa Weda XII.1.1. Kata tapa memiliki arti penguasaan, nafsu atau menjalani kehidupan suci. Untuk dapat hidup suci, seseorang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri, baik penguasaan diri, panca indera dan pikiran (manah).



g.     Brahman
Brahman atau pujian adalah semacam doa yang sehari-hari disebut mantra atau stuti. Mantra adalah bacaan yang dipergunakan dalam melakukan pemujaan. Kata lain yang sering digunakan adalah storta atau stawa.
h.     Yajna
Yajna atau yajnya merupakan ritual ataupun rituil yaitu upacara keagamaan yang sama artinya dengan  samskara. Selain samskara kata lain yang memiliki kesamaan makna dengan yajna ialah karman. Karman berarti upacara keagamaan yang dalam bahasa Jawa ditulis karma.
i.       Sad Darsana
Sad Darsana berarti enam pemikiran filsafat yang diterima dan diakui sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan agama Hindu. Keenam filsafat tersebut adalah:
1.    Filsafat Samkhya
2.    Filsafat Yoga
3.    Filsafat Mimamsa
4.    Filsafat Nyaya
5.    Filsafat Waisesika
6.    Filsafat Wedanta

Ajaran pokok dalam Buddha
Rumusan inti ajaran Buddha disebut “empat kebenaran yang mulia” atau “empat aryasatyani”. Aryasatyani atau kebenaran yang mulia itu terdiri dari empat kata: Dukha, Samudaya, Nirodha dan Marga.
            Yang dimaksud dengan Dukha adalah penderitaan. Hidup adalah menderita, kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderiataan, sakit adalah penderiataan, mati adalah penderitaan, disatukan dengan yang tidak dikasihi adalah penderitaan.
            Adapun Samudaya adalah sebab dari penderitaan tersebut. Yang menyebabkan orang ingin dilahirkan kembali adalah keinginan kepada hidup, dengan disertai nafsu untuk mencari kepuasan, kesenangan dan kekuasaan. Apabila semua itu tidak tercapai, maka timbullah penderitaan.
Nirodha adalah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan terjadi dengan menghilangkan keinginan secara total, menyeluruh. Niradha dilakukan tentunya setelah mengetahui hal-hal yang menjadi Samudaya. Hal ini mengingat Pattica Samuppada (hukum kausalitas), yang juga merupakan ajaran Buddha, dan apabila hal tersebut tidak dapat dipahami maka kesedihan dan penderitaan dalam kehidupan tidak dapat diatasi.
Marga adalah jalan kelapasan. Jalan kepada pemadaman ada delapan: percaya yang benar, maksud yang benar, kata-kata yang bena, perbuatan yang benar, hidup yang benar, usaha yang benar, ingatan yang benar dan shamadi yang benar.

Menurut saya, semua hal yang terdapat dalam ajaran Hindu sangat menarik. Dimana ternyata ada kesamaan konsep dengan ajaran Isam.  dari aspek kepecayaan bahwa sebenarnya ajaran yang diberikan oleh agama Hindu adalah ketauhidan dimana hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dipatuhi. Hanya cara atau thariqatnya saja yang berbeda. Begitupun dengan konsep kebaikan, agama ini juga mengajarkannya. Dimana seorang penganut Hinduisme seyogyanya melakukan kebaikan. Konsepnya sama dengan Islam. Inilah yang menunjukkan bahwa “seluruh agama” mengajarkan budi pekerti yang baik.
Sedangkan dalam aharan Buddha, hal yang menarik adalah konsep dasar atau tujuan Buddha adalah menebarkan kasih sayang kepada semua makhuk. Hal ini sesuai dengan makna filosofi bunga “teratai” yang sering digunakan oleh mereka. Walaupun berada di tempat yang kotor mereka tetap tidak ikut kotor. Selain itu juga Buddha mengajarkan bagaimana hakikat manusia yang sesungguhnya bahwa kita tidak akan kekal di dunia. Dunia hanyalah tempat persinggahan yang pasti akan kita tinggalkan. Semua yang ada hanyalah kesengangan sesaaat. Ia juga mengajarkan bagaimana cara mendapatkan kesenangan yang abadi melalui penderitaan terlebih dahulu.

II.
Dalam Islam sudah jelas bahwa wahyu yang diturunkan berupa al-Qur’an berasal dari Allah langsung. Diturunkan kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Muhammad hanyalah sebagai penyampai risalah Allah kepada umat manusia, baik yang berupa kabar gembira maupun ancaman Allah. Allah telah berfirman:
$pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# !$¯RÎ) y7»oYù=yör& #YÎg»x© #ZŽÅe³t6ãBur #\ƒÉtRur ÇÍÎÈ $·ŠÏã#yŠur n<Î) «!$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ %[`#uŽÅ ur #ZŽÏYB ÇÍÏÈ
Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.
Dari ayat diatas telah jelas bahwa nabi Muhammad hanyalah penyampai wahyu Allah. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam adalah wahyu.
            Sedangkan didalam agama Kristen, yang mereka anggap sebagai wahyu Allah adalah nabi Isa itu sendiri. Dilahirkan dan diutusnya beliau ke muka bumi ini adalah sebagai wahyu. Sedangkan kitab injil tersebut bukanlah murni dari Tuhan melainkan adanya campurtangan manusia karena Tuhan hanya memberikan inspirasi kepada manusia. Oleh karena itu juga wahyu dalam kitab mereka berupa inspirasi, bukan langsung seperti al-Qur’an.  Pengarang sekaligus pemegang otoritas tertinggi terhadap al-Qur`an adalah Allah swt, sedangkan dalam injil terdapat dua pengarang, Manusia dan Allah. Dan apabila kita ingin mensejajarkan antara kedua kitab suci ini, maka tidak akan sama karena posisi al-qur’an sebagai wahyu baru seimbang apabila begandengan dengan nabi Isa yang mereka anggap sebagai wahyu Tuhan. Sedangkan Injil sejajar dengan hadits Nabi Muhammad saw. 



III. Islam mengakui adanya agama dan kepecayaan lain.
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$#ur (#rߊ$yd tûüÏ«Î7»¢Á9$#ur 3t»|Á¨Y9$#ur }¨qàfyJø9$#ur tûïÏ%©!$#ur (#þqà2uŽõ°r& ¨bÎ) ©!$# ã@ÅÁøÿtƒ óOßgoY÷t/ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« îÍky­ ÇÊÐÈ
17.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin[983] orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi Keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.
Islam memandang agama lain sebagai satu kesatuan pada awalnya. Semua ajaran yang disampaikan oleh para nabi berlandaskan “ketauhidan” ke pada Allah. Hanya saja penyimpangan yang dilakukan oleh segoongan orang membuat itu berubah dan menyesatkan. Tidak lagi belandaskan ajaran murni. Namun Islam tetap mengakui pluralisme dalam beragama.Islam memberikan kebebasan kepada semua makhluk untuk memilih keyakinan yang ia percayai. Allah berfiman:
ö/ä3s9 ö/ä3ãYƒÏŠ uÍ<ur ÈûïÏŠ ÇÏÈ
6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Hanya saja yang menjadi titik tekan Islam kepada penganutnya mengenai agama-agama lain adalah bahwa agama-agama selain Islam bukanlah jalan menuju Allah. Allah berfirman:
¨br&ur #x»yd ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#Î7y 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ
153.  Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)  Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar