I.
Ajaran pokok dalam Hindu
Dalam buku “Agama Kita” karangan Djam’annuri disebutkan ada
beberapa pokok-pokok ajaran agama Hindu:
a.
Tujuan agama Hindu
Tujuan agama Hindu adalah “Moksartham jagaddhitaya ca iti dharmah”
yang berarti “tujuan beragama atau berdharma adalah untuk mendapatkan Moksa
dan Jagadditha’. Pengertian ini diambil dari definisi agama yang
diungkapkan oleh Swami Vivekananda, guru rohani India yaitu: Atmanam
moksartham jagaddithaya ca yang bermakna agama adalah untuk mencapai
kelapasan, kebebasan atau kesempurnaan roh (moksa), kesejahteraan umat
manusia, kedamaian dan kelestarian dunia (jagaddhita).
b.
Keimanan Hindu
Jiwa dari agama adalah kepercayaan. Dalam agama Hindu, iman disebut
dengan sraddha. Sraddha sebagai kepercayaan dirumuskan
sebagaimana termuat dalam Atharwa Weda XII.1.1sebagai berikut;
Satyam
brhad rtam ugram diksa
tapo
brahma yajna prthiwim dharayanti
Artinya
:
Sesungguhnya
satya, rta, diksa,
tapa,
brahma dan yajna yang menyangga dunia
Dari
ayat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keenam unsur tersebut (satya,
rta, diksa,tapa, brahma dan yajna) merupakan unsur dharma yang memelihara kehidupan ini.
c.
Satya
Kata satya dalam bahasa Sanskerta dipergunakan
dalam banyak hubungan karena dapat berarti macam-macam. Adapun arti kata satya
antara lain:
1. Satya yang berarti kebenaran, yaitu merupakan
sifat hakikat dar Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kata itu diartikan sama sebagai
Ketuhana Yang Maha Esa.
2. Satya berarti kejujuran, dengan pengertian
tersebut maka ajaran Satya Tattawa, yang merupakan pokok pertama dari
ajaran Sraddha, menurut kitab Atharwa Weda harus diartikan sama dengan Widhi
Tattawa atau Brahma Tattawa dalam ajaran Panca Sraddha.
d.
Rta
Rta (baca: Rita) atau Reta merupakan eksistensi dari hukum Tuhan
yang murni dan bersifat absolute-transendental. Bentuk hukumnya yang
diaplikasikan kedalam perbuatan manusia disebut Dharma dan bersifat
relative.
e.
Diksa
Diksa berarti pensucian atau penyucian, pentahbisan atau inisiasi.
Sebagai unsur pokok keimanan, bersamaan dengan tapa dan yajna, diksa
dianggap sebagai satu rangkaian pengertian yang arti dan fungsinya sama sebagai
alat untuk sampai pada kesucian. Diksa dapat ditempuh melalui brata,
dan dengan brata itu seseorang didiksa. Orang yang telah didiksa
disebut Diksita, orang yang memiliki wejangan untuk melakukan upacara,
yaitu ngelokapalasraya. Jadi, diksa adalah cara untuk melewati
satu fase ke fase yang lain, dari kehidupan yang belum sempurna kepada
kehidupan yang sempurna.
f.
Tapa
Tapa atau pengendalian diri merupakan unsur keimanan yang kelima menurut katentuan Atharwa Weda XII.1.1. Kata
tapa memiliki arti penguasaan, nafsu atau menjalani kehidupan suci. Untuk dapat
hidup suci, seseorang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri, baik
penguasaan diri, panca indera dan pikiran (manah).
g.
Brahman
Brahman atau pujian adalah semacam doa yang sehari-hari disebut mantra atau stuti.
Mantra adalah bacaan yang dipergunakan dalam melakukan pemujaan. Kata
lain yang sering digunakan adalah storta atau stawa.
h.
Yajna
Yajna atau yajnya merupakan ritual ataupun rituil yaitu
upacara keagamaan yang sama artinya dengan
samskara. Selain samskara kata lain yang memiliki kesamaan
makna dengan yajna ialah karman. Karman berarti upacara keagamaan yang
dalam bahasa Jawa ditulis karma.
i.
Sad Darsana
Sad Darsana berarti enam pemikiran filsafat yang diterima dan
diakui sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan agama Hindu. Keenam
filsafat tersebut adalah:
1. Filsafat Samkhya
2. Filsafat Yoga
3. Filsafat Mimamsa
4. Filsafat Nyaya
5. Filsafat Waisesika
6. Filsafat Wedanta
Ajaran pokok dalam Buddha
Rumusan inti ajaran Buddha disebut “empat
kebenaran yang mulia” atau “empat aryasatyani”. Aryasatyani atau kebenaran yang
mulia itu terdiri dari empat kata: Dukha, Samudaya, Nirodha dan Marga.
Yang
dimaksud dengan Dukha adalah penderitaan. Hidup adalah menderita, kelahiran
adalah penderitaan, usia tua adalah penderiataan, sakit adalah penderiataan,
mati adalah penderitaan, disatukan dengan yang tidak dikasihi adalah
penderitaan.
Adapun
Samudaya adalah sebab dari penderitaan tersebut. Yang menyebabkan orang ingin
dilahirkan kembali adalah keinginan kepada hidup, dengan disertai nafsu untuk
mencari kepuasan, kesenangan dan kekuasaan. Apabila semua itu tidak tercapai,
maka timbullah penderitaan.
Nirodha adalah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan terjadi dengan
menghilangkan keinginan secara total, menyeluruh. Niradha dilakukan
tentunya setelah mengetahui hal-hal yang menjadi Samudaya. Hal ini mengingat Pattica Samuppada (hukum kausalitas), yang
juga merupakan ajaran Buddha, dan apabila hal tersebut tidak dapat dipahami
maka kesedihan dan penderitaan dalam kehidupan tidak dapat diatasi.
Marga adalah jalan kelapasan. Jalan kepada pemadaman ada delapan: percaya
yang benar, maksud yang benar, kata-kata yang bena, perbuatan yang benar, hidup
yang benar, usaha yang benar, ingatan yang benar dan shamadi yang benar.
Menurut saya, semua hal yang terdapat dalam ajaran Hindu sangat menarik.
Dimana ternyata ada kesamaan konsep dengan ajaran Isam. dari aspek kepecayaan bahwa sebenarnya ajaran
yang diberikan oleh agama Hindu adalah ketauhidan dimana hanya Tuhan Yang Maha
Esa yang dipatuhi. Hanya cara atau thariqatnya saja yang berbeda. Begitupun
dengan konsep kebaikan, agama ini juga mengajarkannya. Dimana seorang penganut
Hinduisme seyogyanya melakukan kebaikan. Konsepnya sama dengan Islam. Inilah
yang menunjukkan bahwa “seluruh agama” mengajarkan budi pekerti yang baik.
Sedangkan dalam aharan Buddha, hal yang menarik adalah konsep dasar atau
tujuan Buddha adalah menebarkan kasih sayang kepada semua makhuk. Hal ini
sesuai dengan makna filosofi bunga “teratai” yang sering digunakan oleh mereka.
Walaupun berada di tempat yang kotor mereka tetap tidak ikut kotor. Selain itu
juga Buddha mengajarkan bagaimana hakikat manusia yang sesungguhnya bahwa kita
tidak akan kekal di dunia. Dunia hanyalah tempat persinggahan yang pasti akan
kita tinggalkan. Semua yang ada hanyalah kesengangan sesaaat. Ia juga
mengajarkan bagaimana cara mendapatkan kesenangan yang abadi melalui
penderitaan terlebih dahulu.
II.
Dalam Islam sudah jelas bahwa wahyu yang
diturunkan berupa al-Qur’an berasal dari Allah langsung. Diturunkan kepada nabi
Muhammad melalui malaikat Jibril. Muhammad hanyalah sebagai penyampai risalah
Allah kepada umat manusia, baik yang berupa kabar gembira maupun ancaman Allah.
Allah telah berfirman:
$pkr'¯»t ÓÉ<¨Z9$# !$¯RÎ) y7»oYù=yör& #YÎg»x© #ZÅe³t6ãBur #\ÉtRur ÇÍÎÈ $·Ïã#yur n<Î) «!$# ¾ÏmÏRøÎ*Î/ %[`#uÅ ur #ZÏYB ÇÍÏÈ
Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk
jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi
penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang
menerangi.
Dari ayat diatas telah jelas bahwa nabi
Muhammad hanyalah penyampai wahyu Allah. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat
Islam adalah wahyu.
Sedangkan
didalam agama Kristen, yang mereka anggap sebagai wahyu Allah adalah nabi Isa
itu sendiri. Dilahirkan dan diutusnya beliau ke muka bumi ini adalah sebagai
wahyu. Sedangkan kitab injil tersebut bukanlah murni dari Tuhan melainkan
adanya campurtangan manusia karena Tuhan hanya memberikan inspirasi kepada
manusia. Oleh karena itu juga wahyu dalam kitab mereka berupa inspirasi, bukan
langsung seperti al-Qur’an. Pengarang sekaligus
pemegang otoritas tertinggi terhadap al-Qur`an adalah Allah swt, sedangkan
dalam injil terdapat dua pengarang, Manusia dan Allah. Dan apabila kita ingin
mensejajarkan antara kedua kitab suci ini, maka tidak akan sama karena posisi
al-qur’an sebagai wahyu baru seimbang apabila begandengan dengan nabi Isa yang
mereka anggap sebagai wahyu Tuhan. Sedangkan Injil sejajar dengan hadits Nabi
Muhammad saw.
III. Islam mengakui adanya agama dan kepecayaan lain.
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä tûïÏ%©!$#ur (#rß$yd tûüÏ«Î7»¢Á9$#ur 3t»|Á¨Y9$#ur }¨qàfyJø9$#ur tûïÏ%©!$#ur (#þqà2uõ°r& ¨bÎ) ©!$# ã@ÅÁøÿt óOßgoY÷t/ tPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« îÍky ÇÊÐÈ
17.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang
Shaabi-iin[983] orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang
musyrik, Allah akan memberi Keputusan di antara mereka pada hari kiamat.
Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.
Islam memandang agama lain sebagai satu
kesatuan pada awalnya. Semua ajaran yang disampaikan oleh para nabi
berlandaskan “ketauhidan” ke pada Allah. Hanya saja penyimpangan yang dilakukan
oleh segoongan orang membuat itu berubah dan menyesatkan. Tidak lagi
belandaskan ajaran murni. Namun Islam tetap mengakui pluralisme dalam
beragama.Islam memberikan kebebasan kepada semua makhluk untuk memilih
keyakinan yang ia percayai. Allah berfiman:
ö/ä3s9
ö/ä3ãYÏ uÍ<ur ÈûïÏ
ÇÏÈ
6. Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku."
Hanya saja yang menjadi titik tekan Islam
kepada penganutnya mengenai agama-agama lain adalah bahwa agama-agama selain
Islam bukanlah jalan menuju Allah. Allah berfirman:
¨br&ur #x»yd ÏÛºuÅÀ $VJÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( wur (#qãèÎ7Fs? @ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#Î7y 4 öNä3Ï9ºs Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)Gs? ÇÊÎÌÈ
153.
Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu
dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar